Elva terkejut bukan kepalang tatkala berhadapan langsung dengan Shaka, meskipun wajah Shaka sangat hangat namun sorot matanya membuat ia tidak berkutik. Ia berdehem mengurangi rasa takut yang tiba-tiba mendera, merapikan sulur rambutnya menutupi kecanggungan yang begitu kentara. “Adik ipar, aku baru saja menemui Devi. Ehm, apa setelah ini aku bisa pergi membawa Najwa bermain sebentar?” Elva memberanikan diri untuk bertanya, toh tidak ada yang salah juga dari sikapnya itu. Najwa anaknya bukan. Shaka menipiskan bibir membuat senyum sedikit sinis namun sangat kentara. “Kakak hanya merindukan Najwa?” “Apa maksudmu? Hahaha aku pasti juga merindukan Rania juga.” Elva tertawa canggung menutupi kegugupan yang kian menjadi-jadi. “Aku ingin mengajak Najwa keluar karena selama ini telah membuang

