Bab 9

1301 Kata
Ressa sadar bahwa dia tidak ingin kembali. *** BAB 9: Pagi yang Berantakan dan Rahasia di Balik Telepon Cahaya matahari pagi yang menyusup di sela-sela gorden abu-abu kamar Ressa terasa lebih menyilaukan dari biasanya. Ressa mengerang pelan, mencoba menarik selimut lebih tinggi, namun ia merasakan beban hangat di pinggangnya. Matanya terbuka seketika. Di sana, di atas bantal putihnya, Regin Ang sedang tertidur pulas. Wajah pria itu tampak sangat tenang, jauh dari aura predator yang ia tunjukkan semalam. Rambutnya berantakan di atas dahi, dan napasnya teratur mengenai bahu polos Ressa. Ressa tertegun sejenak. Memorinya tentang semalam—tentang bagaimana gaun sutranya luruh di lantai ruang tamu, tentang bisikan serak Regin di telinganya, dan tentang bagaimana pria ini memujanya seolah ia adalah satu-satunya wanita di dunia—menyerbu otaknya tanpa ampun. Ressa segera menarik diri, mencoba turun dari kasur tanpa membangunkan Regin. Namun, saat kakinya menyentuh lantai yang dingin, sebuah tangan besar kembali menarik pergelangan tangannya. "Mau lari ke mana, Res?" suara bariton khas bangun tidur itu terdengar serak dan sangat seksi. Regin membuka satu matanya, menatap Ressa dengan seringai nakal yang membuat pipi Ressa langsung terasa terbakar. Ia menarik Ressa kembali ke pelukannya, membenamkan wajahnya di leher wanita itu. "Regin, lepas... sudah pagi. Aku harus bersiap ke kantor," ujar Ressa, mencoba memanggil kembali sisa-sisa wibawanya yang sudah hancur lebur sejak jam dua pagi tadi. "Kantormu tidak akan bangkrut kalau manajernya telat satu jam," gumam Regin, tangannya mulai bergerak nakal di balik selimut. "Lagi pula, semalam Mbak bilang aku 'hebat'. Kenapa sekarang jadi buru-buru?" "Regin Ang! Berhenti membahas itu!" Ressa memukul lengan Regin dengan bantal, membuat pria itu tertawa lepas. Ketegangan yang selama ini menyiksa mereka kini telah mencair menjadi sesuatu yang lebih intim, namun bagi Ressa, ada satu beban besar yang mendadak menghantam dadanya: Rasa bersalah. Satu jam kemudian, suasana di meja makan terasa jauh lebih canggung bagi Ressa. Ia sudah mengenakan kemeja kerja yang rapi, sementara Regin hanya mengenakan celana kain panjang tanpa atasan, sibuk menggoreng telur di dapur. "Regin, soal semalam..." Ressa memulai, jemarinya meremas cangkir kopi. "Kalau Mbak mau bilang itu kesalahan, jangan lakukan," potong Regin tanpa menoleh. Ia mematikan kompor dan membawa piring ke meja. "Karena buatku, itu adalah hal paling benar yang pernah aku lakukan dalam hidupku." Ressa menghela napas. "Bukan itu. Tapi orang tuamu... Tante Ratna memercayakanku. Kalau dia tahu anaknya 'tidur' di kamar kakak titipannya, dia bisa kena serangan jantung." Regin duduk di depan Ressa, menatapnya dengan pandangan yang mendadak serius. "Aku sudah 19 tahun, Res. Aku bukan lagi bocah yang harus minta izin Mamah untuk jatuh cinta. Aku yang akan bicara pada mereka nanti, kalau waktunya sudah tepat." "Tapi—" Drttt! Drttt! Ponsel Regin di atas meja bergetar hebat. Nama yang muncul di layar membuat jantung Ressa seolah berhenti berdetak: MAMAH (Video Call). Ressa panik. Ia melihat ke arah Regin yang setengah telanjang, lalu ke arah kamarnya yang pintunya masih terbuka lebar memperlihatkan bantal yang berantakan. "Regin! Jangan diangkat!" bisik Ressa panik. "Kalau nggak diangkat, dia malah curiga," balas Regin tenang. Ia menyambar kaus putih yang tersampir di kursi, memakainya dengan kilat, lalu memberi isyarat agar Ressa diam. Regin menekan tombol hijau. Wajah hangat Tante Ratna muncul di layar, latar belakangnya adalah kebun bunga di kampung halaman mereka yang asri. "Halo, Regin sayang! Ya ampun, baru bangun ya? Kok wajahnya berseri-seri gitu?" suara Tante Ratna terdengar ceria. "Halo, Mah. Iya, baru sarapan," jawab Regin santai. Ia mengarahkan kamera ke piring telurnya, sengaja menjauhkan sudut kamera dari Ressa yang duduk kaku di sampingnya. "Mana Ressa? Tante telepon dari tadi malam nggak diangkat. Mamah khawatir, takut kalian berantem atau Regin nakal di sana." Ressa menelan ludah. Ia memberi kode pada Regin agar tidak mengarahkan kamera padanya, tapi Regin justru tersenyum jahil. "Mbak Ressa ada di sini, Mah. Dia lagi... sibuk mikirin kerjaan," ujar Regin, lalu tiba-tiba ia menggeser ponselnya hingga wajah Ressa masuk ke dalam bingkai. "Eh—Halo, Tante!" Ressa menyapa dengan senyum paling kaku yang pernah ia buat. Tangannya di bawah meja mencubit paha Regin dengan keras sebagai balas dendam. "Loh, Ressa! Kok pucat gitu, Nak? Sakit lagi? Regin, kamu jagain Mbakmu yang bener ya! Jangan malah disusah-susahin," ujar Tante Ratna. "Oh iya, Tante telepon mau kasih tahu sesuatu. Minggu depan Tante mau ke Jakarta. Mau tengok kalian, udah kangen sama Regin, sekalian mau bawain oleh-oleh buat Ressa." Deg. Dunia Ressa seolah runtuh. Ke Jakarta? Minggu depan? "Wah, asyik dong, Mah," balas Regin tenang, seolah tidak ada beban. "Nanti Regin jemput di bandara." "Iya, Tante kangen banget sama kalian. Tante senang banget kalian rukun di sana. Ressa, makasih ya sudah jaga Regin. Tante tenang banget titipin Regin sama orang yang sudah Tante anggap anak sendiri." Setelah percakapan singkat itu berakhir, Ressa langsung lemas. Ia menyandarkan kepalanya di meja makan. "Anak sendiri, Gin... Tante Ratna bilang aku sudah dianggap anak sendiri," rintih Ressa. "Dan kita baru saja... astaga, aku benar-benar wanita jahat." Regin mendekat, mengitari meja dan berdiri di belakang Ressa. Ia memijat bahu Ressa dengan lembut. "Res, dengar. Kita tidak melakukan kriminal. Kita dua orang dewasa yang saling mencintai. Kedatangan Mamah justru bagus, biar semuanya segera jelas." "Jelas apa?! Jelas kalau aku menggoda anak tetanggaku sendiri?!" Ressa berdiri, matanya mulai berkaca-kaca. "Kamu nggak mengerti, Regin. Beban moral ini ada padaku, bukan padamu." Ressa berangkat ke kantor dengan pikiran yang kalut. Di kantor, suasana terasa sepi tanpa Seno, namun setiap kali ia melihat berkas karyawan, ia merasa dirinya adalah orang paling munafik. Bagaimana ia bisa menilai moralitas orang lain sementara ia sendiri terjebak dalam hubungan yang "terlarang" secara norma keluarga? Sepanjang hari, Ressa mencoba melakukan ghosting kecil pada Regin. Ia sengaja tidak membalas pesan w******p Regin yang berisi foto-foto lucu atau ajakan makan malam. Ia butuh ruang. Ia butuh memikirkan bagaimana caranya "membersihkan" apartemennya sebelum Tante Ratna datang. Namun, Regin bukan tipe pria yang bisa di-ghosting. Sore harinya, saat Ressa keluar dari kantor, ia menemukan Regin sudah menunggu di parkiran—bukan dengan mobil, tapi dengan motor besar yang baru saja ia beli (atau sewa). Regin mengenakan jaket kulit, tampak seperti pemberontak yang siap menculik putri raja. "Naik, Res," perintah Regin. "Aku bawa mobil sendiri, Gin." "Mobilmu biar di sini. Aku sudah bilang sama satpam. Naik, atau aku akan menciummu di depan lift ini sekarang juga." Ressa tahu Regin tidak pernah main-main dengan ancamannya. Dengan terpaksa, Ressa naik ke boncengan motor itu. Ia terpaksa memeluk pinggang Regin karena motor itu melaju kencang membelah kemacetan Jakarta. Regin tidak membawanya pulang. Ia membawa Ressa ke sebuah taman di pinggir waduk yang tenang saat matahari mulai terbenam. "Kenapa kita ke sini?" tanya Ressa setelah turun dari motor. Regin melepas helmnya, rambutnya berantakan tertiup angin sore. Ia menatap Ressa dengan tatapan yang sangat dalam, tatapan yang selalu berhasil meluluhkan kemarahan Ressa. "Karena aku tahu kamu sedang merasa bersalah," ujar Regin. Ia menarik Ressa ke dalam pelukannya di bawah pohon rindang yang sepi. "Res, lihat aku." Ressa mendongak. "Aku bukan lagi anak sembilan tahun yang dititipkan padamu. Aku pria yang datang padamu. Kalaupun ada yang harus disalahkan, itu aku. Aku yang mencarimu, aku yang mengejarmu, dan aku yang tidak akan membiarkanmu pergi." Regin mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah kalung perak dengan liontin kecil berbentuk bintang. "Ini hadiah pertama yang aku beli dengan uang hasil kerja sampinganku sebagai asisten dosen. Aku mau kamu pakai ini saat bertemu Mamah minggu depan." "Regin..." "Pakai ini sebagai tanda kalau kamu milikku. Bukan sebagai 'kakak', bukan sebagai 'anak titipan'. Tapi sebagai wanitaku," bisik Regin. Regin memasangkan kalung itu di leher Ressa. Sentuhan tangannya di tengkuk Ressa membuat rasa bersalah itu perlahan memudar, berganti dengan keberanian yang baru. Ressa menyadari, lari dari kenyataan hanya akan memperburuk segalanya. "Janji satu hal padaku, Gin," ucap Ressa sambil memegang liontin bintangnya. "Apa?" "Jangan pernah lepaskan tanganku, apa pun yang Tante Ratna katakan nanti." Regin tersenyum, lalu mengecup kening Ressa dengan sangat lama. "Sampai mati pun, tidak akan, Res."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN