Bab 10

1292 Kata
BAB 10: Kamuflase di Balik Meja Makan Pagi itu, sisa aroma malam yang panjang bersama Regin belum benar-benar luruh dari kulit Ressa, namun bel pintu sudah berbunyi dengan nada yang sangat menuntut. Saat pintu terbuka, Ressa terpaku. "Kejutan! Sayang, kamu makin cantik saja!" Tante Ratna berdiri di sana. Rambutnya yang biasanya hanya diikat rapi, kini tergerai dengan gelombang yang sengaja ditata. Ia mengenakan tunik sutra modis yang pas di tubuhnya, membawa aroma parfum bunga yang manis sekaligus dominan. Ia langsung menghambur memeluk Ressa, namun matanya dengan cepat melesat, memindai seisi ruangan. "Tante... Ratna? Bukannya minggu depan?" Ressa tergagap. "Tante sudah tidak tahan ingin menghirup udara Jakarta, Res," Ratna mengedipkan mata, sebuah kerlingan genit yang membuat tenggorokan Ressa terasa kering. Belum sempat Ressa mencerna kehadiran Ratna, langkah kaki berat terdengar dari lorong gedung. Sosok pria dengan kemeja slim-fit dan koper kabin muncul. Ayahnya. "Papa?" Pak Bram tersenyum hangat, namun langkahnya terhenti seketika saat melihat Ratna sudah berdiri di ambang pintu putrinya. "Ratna? Kamu... Kok Disini?" "Braaaamm... Astagah.. kebetulan sekali ya," suara Ratna melunak, berubah menjadi nada rendah yang manja. Ia melangkah mendekat pada Pak Bram. Dengan gerakan yang sangat halus—yang hanya bisa ditangkap oleh mata seorang wanita—jemari Ratna menyentuh lengan kemeja Pak Bram, seolah-olah sedang membersihkan debu kasatmata di sana "Aku kesini buat melihat anakku Regin, kan aku pernah kirim e-mail ke kamu, bahwa aku nitip Regin ke Ressa. Aku khawatir dia pergaulan bebas kalo gak ada yang ngawasi. Kalo sama Ressa, kan Regin takut ya.. sejak kecil Regin kan nurut sama Ressa." "Hemm gitu.. maaf aku gak baca e-mail kamu." "Gak papa Bram. Aku tau kamu sibuk" "Halo om.." sapa Regin menyalami Bram. "Wahhh.. udah besar ya kamu.. tinggi juga. Waktu cepat sekali ya" "Ah, tapi om masih kelihatan seperti dulu. Tidak ada yang berubah. Masih sangat tampan dan gagah." "Ah, bisa aja kamu, Gin!" "Eh, Regin serius om. Lihat, mamah gak berkedip menatap om!" Ratna memukul lengan anaknya, "eheheh.. kamu jangan buat malu mama Gin!" Gumam Ratna sambil tersenyum. "Eh.. ayo ayo masuk!" Suruh Ratna seolah itu adalah apartemen miliknya. *** Makan malam hari itu terasa seperti medan perang yang dibungkus dalam piring keramik. Ratna benar-benar mengambil alih dapur. Ia memasak rendang dengan bumbu paling pekat, aroma yang ia tahu adalah kelemahan Pak Bram sejak belasan tahun lalu. Di meja makan, Ressa hanya bisa membeku. Tante Ratna duduk tepat di hadapan Pak Bram. Setiap kali Pak Bram berbicara, Ratna akan menopang dagunya, menatap pria itu dengan binar yang terlalu terang untuk sekadar "teman lama". "Bram, cobalah rendangnya. Ini resep lama yang dulu sering kamu minta kalau aku sedang masak di rumah," ujar Ratna lembut. Ia tidak menyodorkan piring saji; ia justru menggunakan sendok pribadinya untuk meletakkan potongan daging terbaik langsung ke piring Pak Bram. Pak Bram berdeham, wajahnya tampak sedikit kikuk namun ia tidak menarik piringnya. "Terima kasih, Ratna. Kamu masih ingat saja." "Mana mungkin Tante lupa soal Papa kamu, Res," Ratna menoleh pada Ressa dengan senyum manis yang tidak mencapai mata, sementara tangannya kembali bergerak, kali ini dengan berani merapikan letak gelas Pak Bram hingga jari mereka sempat bersentuhan sekejap. Di bawah meja, sebuah tekanan hangat mendarat di lutut Ressa. Ressa tersentak, mencoba menarik kakinya, namun tangan Regin justru bergeser, menggenggam jemari Ressa di balik juntaian taplak meja. Regin melakukan itu dengan wajah yang sangat tenang, seolah-olah ia sedang menikmati makan malam keluarga yang paling normal di dunia. "Mama memang selalu perhatian kalau soal Om Bram, ya," celetuk Regin santai, matanya melirik ke arah Ressa dengan binar penuh kemenangan. Ratna tertawa renyah, sebuah tawa yang terdengar sangat "wanita". "Namanya juga teman lama, Gin. Masa Tante harus cuek pada orang yang sudah begitu baik menjaga kamu di sini?" Ressa merasa sesak. Ia terjepit di antara dua generasi yang sedang bersandiwara. Ayahnya, sang arsitek yang kaku, tampak kewalahan menghadapi gestur-gestur "nakal" Ratna yang dibungkus perhatian. Sementara di sampingnya, Regin menggunakan kekacauan itu sebagai tameng untuk semakin berani menyentuh tangan Ressa di bawah pengawasan orang tua mereka. Malam semakin larut. Pak Bram memutuskan untuk tidur di sofa ruang tamu yang bisa diubah menjadi tempat tidur, sementara Ratna menempati kamar tamu. Ressa mengurung diri di kamarnya, namun pikirannya terus berputar pada kelakuan genit Ratna yang sangat halus namun mematikan. Tok, tok. Pintu kamarnya diketuk pelan. Ratna masuk, sudah mengenakan gaun tidur satin yang elegan namun tertutup. Ia membawa segelas air hangat untuk Ressa. "Minum dulu, Sayang. Biar kamu tidurnya nanti nyenyak," ujar Ratna. Ia duduk di pinggir ranjang, merapikan selimut Ressa dengan gerakan yang sangat keibuan, namun matanya berkilat saat menatap foto Pak Bram yang ada di nakas. "Papa kamu itu... masih sama seperti dulu ya. Kaku, tapi sebenarnya butuh seseorang untuk mengurusnya." Ressa hanya bisa tersenyum kaku. "Papa memang mandiri, Tante." "Setangguh apa pun pria, dia akan luluh pada perhatian kecil, Res," Ratna mengusap pipi Ressa pelan, sebuah sentuhan yang terasa seperti "pesan rahasia" agar Ressa jangan ikut campur. Sebelum keluar, Ratna menoleh. "Tidur yang nyenyak. Terimakasih sudah mau menerima Regin ya." Begitu pintu tertutup, Ressa merosot di balik pintu. Ia merasa apartemen ini bukan lagi tempat perlindungan, melainkan sangkar yang penuh dengan jebakan emosional. Tak lama, ponselnya bergetar di atas nakas. Regin Ang: Mamah sudah tidur. Papa juga sepertinya sudah mulai terbuai masakan Mamah sampai tidurnya lelap sekali. Sekarang, giliranku, Res. Aku di depan pintu kamar. Buka, atau aku akan terus berdiri di sini sampai Papa bangun untuk minum dan melihatku sedang menunggumu. Ressa menatap daun pintu kamarnya dengan jantung yang berdegup kencang. Di luar sana, ayahnya mungkin sedang memimpikan Ratna, dan di sini, Ressa sedang berjuang menghadapi keberanian Regin yang semakin di luar kendali. Ia berjalan ke arah pintu, tangannya gemetar saat memegang kunci. Ia tahu ini gila, tapi tarikan dari "berondong" di balik pintu itu jauh lebih kuat daripada rasa takutnya pada dunia. *** Klik. Bunyi kunci pintu yang diputar Ressa terasa memekakkan telinga di tengah kesunyian apartemen. Begitu pintu terbuka sedikit, sebuah bayangan tinggi langsung menyelinap masuk, menutup pintu kembali dengan gerakan yang sangat rapi, nyaris tanpa suara. Regin berdiri di sana, masih dengan kaus oblong putihnya, namun tatapannya tidak lagi santai seperti saat di meja makan tadi. Ada kilat obsesi yang tertahan, yang kini bebas terpancar karena tidak ada lagi mata Pak Bram atau Tante Ratna yang mengawasi. "Regin, kamu gila ya?" bisik Ressa, suaranya gemetar. Ia melangkah mundur hingga betisnya menabrak pinggiran tempat tidur. "Papa tidur di sofa depan. Kalau dia bangun dan melihat kamu nggak ada di kamar tamu..." "Papa Mbak tidurnya lelap sekali, Res. Efek rendang Mamah memang luar biasa," Regin melangkah maju, memangkas jarak. "Dan Mamah? Dia pasti sedang memimpikan masa depannya bersama Pak Arsitek kebanggaannya itu." Regin meraih pinggang Ressa, menariknya hingga tubuh mereka bersentuhan. Ressa bisa merasakan detak jantung Regin yang kuat, kontras dengan napasnya sendiri yang pendek-pendek. "Mbak lihat tadi, kan?" bisik Regin lagi, suaranya rendah dan serak di dekat telinga Ressa. "Mereka berdua... seolah dunia cuma milik mereka. Kenapa kita harus bersembunyi seperti pencuri di rumah sendiri?" "Karena situasinya beda, Regin!" Ressa mencoba mendorong d**a Regin, namun tangannya justru tertahan di sana, merasakan kehangatan kulit di balik kaus tipis itu. "Mereka duda dan janda. Kita? Aku kakak titipanmu. Papa percaya padaku!" Regin terkekeh, tipe tawa yang membuat bulu kuduk Ressa meremang. Ia mengangkat tangan Ressa, mencium telapak tangannya dengan perlahan, matanya tetap terkunci pada mata Ressa. "Kepercayaan itu sudah patah sejak malam pertama aku menciummu di sini, Res. Dan Mbak menikmatinya, bukan?" Regin merunduk, membenamkan wajahnya di ceruk leher Ressa, menghirup aroma sabun mandi yang bercampur dengan aroma tubuh khas Ressa. Sentuhan bibirnya di kulit leher membuat Ressa memejamkan mata, kekuatannya untuk menolak seolah menguap ke udara. Tiba-tiba, dari arah ruang tamu, terdengar suara gesekan sofa dan langkah kaki yang pelan. Ressa membeku. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Ia mencengkeram bahu Regin dengan kuat. "Papa..." desisnya horor
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN