BAB 7: Luka dan Penjaga yang Tak Terduga
Hujan badai mengguyur Jakarta sejak siang, mengubah langit yang biasanya kelabu menjadi hitam pekat. Bagi Ressa Vanilla, badai ini seolah mewakili kekacauan yang terjadi di dalam dadanya. Sejak kejadian di lobi kantor kemarin, rumor tentang "berondong simpanan" mulai berhembus di antara kubikel divisi HRD. Ressa tahu Seno adalah dalang di balik bisikan-bisikan beracun itu, namun ia terlalu lelah untuk melawan.
Hari itu, Ressa pulang lebih larut. Ia sengaja menunggu hingga kantor benar-benar kosong agar tidak perlu berpapasan dengan Seno di lift. Namun, keputusannya berbuah simalakama. Ia terjebak di lobi gedung tanpa payung, sementara taksi online tak kunjung menerima pesanannya karena banjir di beberapa titik.
Dengan nekat, Ressa menerjang hujan menuju halte terdekat. Hanya butuh tiga menit, namun air hujan yang sedingin es langsung menusuk kulitnya hingga ke tulang. Saat ia tiba di apartemen, tubuhnya sudah menggigil hebat. Bibirnya pucat, dan kepalanya terasa berdenyut seperti dipukul palu godam.
Klik.
Pintu apartemen terbuka. Ruang tamu gelap, hanya ada cahaya remang dari lampu dapur. Ressa mencoba melangkah masuk tanpa menimbulkan suara, namun lututnya lemas. Ia limbung dan menabrak rak sepatu.
"Mbak?"
Suara bariton itu muncul dari kegelapan. Detik berikutnya, lampu ruang tamu menyala terang. Regin berdiri di sana, hanya mengenakan kaus kutang hitam dan celana pendek, memperlihatkan otot-otot lengannya yang kencang. Wajahnya yang semula tenang berubah menjadi penuh kecemasan saat melihat keadaan Ressa.
"Astaga, Res! Kamu kehujanan?!" Regin menghambur mendekat.
"Nggak apa-apa, Gin... cuma sedikit..." Kalimat Ressa terputus oleh bersin yang keras. Seluruh tubuhnya bergetar hebat.
Tanpa bicara lagi, Regin mengangkat tubuh Ressa. Gerakannya begitu sigap dan kuat, seolah tubuh Ressa tidak memiliki berat sama sekali. Ressa yang biasanya protes jika otoritasnya diganggu, kali ini hanya bisa menyandarkan kepalanya yang panas di bahu dingin Regin.
"Kamu panas banget, Res," gumam Regin. Suaranya tidak lagi berisi godaan nakal, melainkan nada protektif yang dalam.
Regin membawa Ressa ke kamarnya sendiri—kamar utama yang biasanya terlarang bagi Regin. Ia membaringkan Ressa di kasur, lalu dengan cekatan mengambil handuk kering dari lemari.
"Ganti bajumu, Res. Sekarang. Atau mau aku yang gantikan?" tanya Regin, matanya menatap tajam namun penuh perhatian.
Ressa memelotot sejenak, energinya kembali sedikit karena rasa malu. "Keluar! Aku bisa sendiri!"
Regin mendengus kecil, namun ia menurut. "Lima menit. Kalau belum selesai, aku masuk."
Sepuluh menit berlalu. Ressa sudah mengenakan piyama tebal, namun ia meringkuk di balik selimut dengan gigi yang bergemeletuk. Kepalanya benar-benar terasa mau pecah. Saat pintu kamar terbuka kembali, aroma hangat meresap masuk.
Regin datang membawa nampan berisi semangkuk bubur, segelas air hangat, dan baskom berisi air suam-suam kuku. Ia duduk di pinggir tempat tidur, posisi yang membuat kasur sedikit amblas dan memaksa tubuh Ressa bergeser mendekat ke arahnya.
"Makan sedikit, lalu minum obat," perintah Regin.
"Nggak mau... mual," gumam Ressa dengan suara parau.
"Ressa Vanilla." Regin menyebut nama lengkapnya dengan nada yang sangat dewasa, membuat Ressa secara insting membuka matanya. "Jangan keras kepala. Kamu bukan manajer di sini. Kamu cuma wanita sakit yang butuh diurus. Buka mulutmu."
Regin menyuapi Ressa dengan telaten. Bubur itu buatan Regin sendiri—rasanya agak terlalu asin, khas masakan pria yang baru belajar masak, namun bagi Ressa, itu adalah hal paling enak yang pernah ia rasakan. Setiap kali sendok itu masuk ke mulutnya, mata Regin tidak pernah lepas dari wajahnya, memantau setiap reaksi Ressa.
Setelah beberapa suap, Regin meletakkan mangkuknya. Ia mengambil kain kompres, memerasnya, lalu perlahan menempelkannya di dahi Ressa.
"Dingin..." Ressa merintih pelan.
"Tahan sebentar. Supaya panasnya turun," bisik Regin. Tangannya yang besar tetap berada di sisi wajah Ressa, ibu jarinya mengusap pelipis Ressa untuk meredakan sakit kepalanya.
Suasana kamar menjadi sangat hening, hanya ada suara rintik hujan yang menghantam jendela kaca. Dalam keremangan lampu tidur, Ressa menatap wajah Regin. Dari jarak sedekat ini, ia bisa melihat tekstur kulit Regin yang kencang, garis rahang yang sangat maskulin, dan binar di matanya yang kini tampak sangat tulus.
"Kenapa kamu baik banget sama aku, Gin?" tanya Ressa lirih, efek dari demam yang membuatnya kehilangan filter bicara. "Padahal dulu aku sering jahat sama kamu."
Regin terhenti sejenak. Ia menatap Ressa dalam-dalam, lalu perlahan tangannya turun ke leher Ressa, memastikan suhu tubuh wanita itu.
"Karena sejak umur sembilan tahun, nggak ada wanita lain yang menarik perhatianku selain kamu," jawab Regin jujur. Suaranya yang rendah bergetar di udara kamar yang sunyi. "Meskipun kamu jahat, meskipun kamu sering buat aku nangis... buatku, kamu satu-satunya alasan aku mau cepat-cepat jadi dewasa."
Ressa merasa matanya panas. "Tapi aku jauh lebih tua, Regin. Aku sudah banyak luka. Sedangkan kamu... perjalananmu masih panjang."
Regin merunduk. Ia mendekatkan wajahnya hingga napasnya yang hangat menerpa pipi Ressa yang dingin.
"Luka itu... biarkan aku yang sembuhkan," bisik Regin. "Dan soal perjalanan panjang... aku sudah menempuh ribuan kilometer hanya untuk sampai ke apartemen ini, Res. Kamu pikir aku akan menyerah hanya karena beda usia?"
Tangan Regin bergerak naik, jemarinya menyelip di antara rambut basah Ressa di belakang kepala. Ia menarik wajah Ressa sedikit lebih dekat. Tensi di antara mereka mendadak berubah. Bukan lagi sekadar kakak-adik titipan, bukan lagi pasien dan perawatnya.
Ini adalah momen rawan.
"Res," panggil Regin, suaranya kini serak. "Aku bukan anak kecil lagi. Berhenti melihatku sebagai bocah ingusan yang bisa kamu suruh-suruh."
Regin menempelkan dahinya ke dahi Ressa. Dalam posisi itu, hidung mereka bersentuhan. Ressa bisa merasakan jantungnya sendiri berdetak liar, bersahut-sahutan dengan detak jantung Regin yang terasa kuat di dadanya.
"Aku bukan anak kecil lagi, Res," ulang Regin tepat di depan bibir Ressa.
Detik itu, Ressa merasa seluruh pertahanannya runtuh. Bukan karena ia sakit, tapi karena ia sadar bahwa pria di depannya ini adalah satu-satunya orang yang benar-benar menjaganya di tengah badai Jakarta yang kejam.
Regin tidak langsung menciumnya. Ia menunggu. Ia memberikan kesempatan bagi Ressa untuk mendorongnya. Namun, Ressa justru memejamkan mata dan secara tidak sadar memiringkan kepalanya, memberikan izin yang tak terucapkan.
Bibir Regin mendarat dengan sangat lembut di bibir Ressa. Kali ini tidak ada tabrakan, tidak ada lantai licin. Ini adalah ciuman yang lambat, penuh perasaan, dan sangat posesif. Regin menghisap bibir bawah Ressa dengan tuntutan yang tenang, seolah ingin meyakinkan Ressa bahwa pria ini—si berondong titipan ini—adalah nyata.
Ressa membalasnya. Lemah, namun penuh penyerahan. Tangan Regin yang besar kini merengkuh pinggang Ressa di balik selimut, menariknya hingga tubuh mereka menempel tanpa celah. Kehangatan tubuh Regin seolah menyedot hawa dingin yang sedari tadi menyiksa Ressa.
Ciuman itu semakin dalam, semakin lapar, hingga napas mereka berdua menderu pendek. Regin baru melepaskannya saat ia menyadari napas Ressa semakin berat karena demam.
Regin menjauhkan wajahnya beberapa senti, menatap bibir Ressa yang kini merah dan sedikit bengkak. Ia menyunggingkan senyum tipis—senyum kemenangan pria dewasa.
"Sekarang, tidur," perintah Regin sambil kembali membetulkan kompres di dahi Ressa. "Kalau besok pagi kamu bangun dan bilang ini cuma kecelakaan lagi karena demam... aku nggak akan tinggal diam, Res."
Ressa tidak sanggup menjawab. Ia hanya bisa menarik selimutnya hingga ke dagu, mencoba menyembunyikan wajahnya yang sudah merah padam. Namun di balik itu semua, untuk pertama kalinya sejak Regin datang, Ressa tidak merasa terancam. Ia mrrasa... terlindungi.
Keesokan paginya, suhu tubuh Ressa memang sudah turun, namun suasana hatinya justru semakin panas saat ia tiba di kantor. Seno Adiguna rupanya belum berhenti berulah.
Saat Ressa masuk ke ruangannya, ia menemukan sebuah foto di atas mejanya. Foto itu diambil secara sembunyi-sembunyi saat Regin menjemputnya di lobi kemarin. Di bawah foto itu ada catatan singkat:
“Hati-hati, Ressa. Perusahaan ini tidak suka skandal. Apa kata direksi kalau mereka tahu Manajer HRD mereka 'memelihara' mahasiswa di rumahnya? Mari bicara jam sepuluh nanti di kantin. Sendirian.”
Ressa meremas kertas itu hingga hancur. Seno bukan lagi sekadar mantan yang menyebalkan, dia sudah menjadi parasit yang mengancam kariernya.
Tepat pukul sepuluh, Ressa melangkah ke kantin dengan dagu terangkat. Ia melihat Seno sudah duduk di sana dengan wajah penuh kemenangan.
"Duduk, Ressa," sapa Seno dengan nada meremehkan. "Kamu terlihat pucat. Apa karena terlalu lelah 'bermain' dengan adik kecilmu itu semalaman?"
Ressa duduk, matanya menatap Seno dengan kebencian yang murni. "Apa maumu, Seno? Kalau kamu ingin jabatan, ambil saja. Tapi berhenti mengusik kehidupan pribadiku."
Seno tertawa. "Aku tidak butuh jabatan. Aku butuh kamu sadar bahwa kamu milikku. Tinggalkan bocah itu, atau foto-foto lain yang lebih 'intim' akan sampai ke meja Direktur Utama besok pagi."
"Foto apa lagi?!"
"Foto kalian di dalam mobil kemarin sore. Cukup untuk membuat orang berpikir yang tidak-tidak, kan?" Seno mengeluarkan ponselnya, hendak menunjukkan sesuatu.
Namun, sebelum Seno sempat menyentuh layarnya, sebuah tangan besar tiba-tiba merampas ponsel itu dari meja dengan gerakan kilat.
"Permisi, sepertinya Anda menjatuhkan sampah ini."
Suara bariton itu. Ressa menoleh dan jantungnya nyaris melompat keluar. Regin sudah berdiri di samping meja mereka. Kali ini ia tidak memakai kemeja santai, melainkan setelan jas rapi milik ayah Ressa yang ia temukan di gudang apartemen. Ia terlihat sangat dewasa, sangat tampan, dan sangat berwibawa.
"Regin?! Kamu—"
Regin tidak melihat Ressa. Matanya terkunci pada Seno yang kini tampak syok dan pucat.
"Seno Adiguna, kan?" Regin meletakkan ponsel Seno kembali ke meja dengan dentang yang keras. "Aku sudah dengar semuanya. Dan aku punya sesuatu yang mungkin lebih menarik daripada foto-foto amatirmu itu."
Regin mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari balik jasnya. "Rekam jejakmu di perusahaan sebelumnya. Kasus pelecehan terhadap staf magang yang kamu suap agar bungkam. Aku punya bukti transfernya di sini."
Wajah Seno berubah putih seperti kertas. "Dari mana kamu... itu nggak mungkin!"
Regin tersenyum dingin, senyum yang menunjukkan bahwa dia bukan sekadar mahasiswa biasa, tapi pria yang memiliki koneksi dan otak yang tajam. "Kamu lupa kalau aku kuliah dengan beasiswa khusus dari firma hukum terbesar di kota ini? Mencari borok pria sepertimu itu jauh lebih mudah daripada mengerjakan soal kalkulus, Seno."
Regin mencondongkan tubuhnya, menekan suaranya hingga hanya terdengar oleh Seno.
"Berhenti mengganggu Ressa, atau bukti ini sampai ke meja polisi satu jam lagi. Dan soal foto itu... silakan sebarkan. Karena seluruh dunia harus tahu bahwa pria yang ada di foto itu jauh lebih berkualitas daripada pengecut sepertimu."
Regin kemudian menoleh ke arah Ressa, tatapannya mendadak melembut. Ia mengulurkan tangannya di depan semua orang di kantin.
"Ayo pulang, Res. Pekerjaanmu di sini sudah selesai untuk hari ini."
Ressa menatap tangan Regin yang lebar dan kuat. Ia melirik Seno yang kini mematung ketakutan. Tanpa ragu lagi, Ressa menyambut tangan Regin. Ia membiarkan pria yang sepuluh tahun lebih muda darinya itu menuntunnya keluar dari kantor, meninggalkan segala beban profesionalnya di belakang.
Di dalam lift, Ressa akhirnya berani bicara. "Regin... dari mana kamu tahu soal Seno?"
Regin menarik Ressa ke dalam pelukannya saat pintu lift tertutup. Ia mengecup puncak kepala Ressa. "Aku sudah bilang, Res. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh milikku. Aku sudah mengawasi dia sejak hari pertama dia berani mendekatimu lagi."
Ressa mendongak, menatap mata Regin yang penuh obsesi sekaligus kasih sayang. "Tapi jas itu... kamu terlihat sangat berbeda."
Regin menyeringai nakal, aura berondongnya kembali muncul. "Kenapa? Mbak mulai naksir sama 'adik' sendiri? Hati-hati, Res. Sekali kamu mengakui, aku nggak akan kasih jalan untuk kamu lari lagi."