... sepasang lengan yang kuat sudah melingkar di pinggangnya dari belakang.
Ressa tersentak, napasnya tertahan di kerongkongan. Punggungnya menempel sempurna pada d**a bidang Regin yang masih terasa hangat. Aroma hujan dan kopi yang menempel di jaket pria itu menyerbu indra penciumannya, memabukkan dan menyesakkan di saat yang bersamaan.
"Regin, lepas..." bisik Ressa, namun suaranya sendiri terdengar tidak meyakinkan bahkan di telinganya sendiri.
Regin tidak melepasnya. Alih-alih menjauh, ia justru membenamkan wajahnya di ceruk leher Ressa, menghirup aroma parfum kantor yang bercampur dengan aroma tubuh khas Ressa. Hembusan napas panasnya membuat bulu kuduk Ressa meremang.
"Tadi di mobil, Mbak bilang aku bukan siapa-siapa," suara Regin terdengar rendah, bergetar langsung di kulit leher Ressa. "Tapi kenapa jantung Mbak bilang hal yang berbeda setiap kali aku menyentuhmu seperti ini?"
Ressa mencoba memutar tubuhnya, bermaksud untuk memprotes, namun gerakan itu justru menjadi kesalahan fatal. Sekarang ia berdiri berhadapan dengan Regin, terperangkap di antara meja makan dan tubuh kokoh pria itu. Jarak mereka begitu terkikis hingga Ressa bisa melihat pantulan kegelisahannya sendiri di mata gelap Regin.
"Kamu... kamu masih kecil, Regin. Kamu harusnya fokus kuliah, bukan melakukan hal-hal gila seperti ini," ujar Ressa, mencoba memanggil kembali jiwanya yang sudah hampir melayang.
Regin tertawa kecil, tipe tawa yang membuat Ressa merasa seperti mangsa yang sedang dipermainkan. Ia mengangkat tangannya, jemarinya yang panjang bergerak perlahan menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Ressa, lalu turun membelai bibir bawah wanita itu dengan ibu jarinya.
"Kecil?" Regin menaikkan sebelah alisnya.
"Bocah mana yang bisa membuatmu gemetar hanya dengan menatapmu, Res? Bocah mana yang bisa membuatmu tidak tidur semalaman karena memikirkannya?"
Regin merunduk, memangkas inci terakhir di antara mereka. Bibirnya nyaris menyentuh bibir Ressa, memberikan tekanan yang begitu tipis namun penuh tuntutan.
"Aku sudah bilang, aku bukan bocah yang kamu suruh panjat pohon lagi. Sekarang, aku pria yang bisa memanjat dinding pertahananmu sampai runtuh."
Ressa menutup matanya, menyerah pada tarikan gravitasi yang bernama Regin. Namun, tepat sebelum bibir itu benar-benar menyatu, Regin justru menarik diri sedikit, memberikan senyum kemenangan yang sangat menyebalkan.
"Mandi sana," perintah Regin tiba-tiba, suaranya kembali normal namun tetap dengan nada dominan. "Aroma kantor ini... aroma pria tadi... aku ingin Mbak menghapusnya sebelum kita makan malam."
Regin melepaskan kurungannya, berbalik menuju dapur seolah-olah ia tidak baru saja menghancurkan seluruh kewarasan Ressa.
Ressa berdiri mematung, dadanya naik turun dengan cepat. Ia menatap punggung Regin yang sedang sibuk mengeluarkan bahan makanan dari kulkas. Pria itu tampak begitu terbiasa berada di sana, seolah-olah dia memang pemilik apartemen ini, dan Ressa hanyalah tamu yang sedang ia jamu.
Tanpa kata, Ressa menyambar tasnya dan berlari masuk ke kamar. Ia mengunci pintu dan menyandarkan punggungnya di sana, persis seperti yang ia lakukan pagi tadi.
"Sialan kamu, Regin Ang," umpatnya lirih, sementara wajahnya sudah merah padam.
Di luar, ia bisa mendengar suara pisau yang beradu dengan talenan, disusul siulan pelan Regin yang terdengar sangat santai.
***
Pagi di kantor biasanya menjadi satu-satunya tempat di mana Ressa Vanilla merasa benar-benar memegang kendali. Namun, hari ini, lantai marmer gedung Sudirman terasa seperti lapisan es tipis yang siap retak di bawah setiap langkah sepatunya.
Ressa duduk di kursi kebesarannya, menatap tumpukan berkas yang seolah mengejeknya. Pikirannya tidak sinkron. Bayangan Regin yang semalam berdiri di dapur, mengenakan kaus putih tipis sambil bersiul pelan, terus berputar seperti kaset rusak. Terutama, bagaimana pria itu menatapnya saat mereka makan malam dalam diam—tatapan yang tidak lagi meminta izin, melainkan sebuah pernyataan kepemilikan.
Tok, tok.
Pintu ruangannya terbuka tanpa menunggu aba-aba. Sosok tinggi dengan setelan jas abu-abu yang terlalu rapi masuk. Seno Adiguna.
"Ressa. Kamu melewatkan sarapan lagi?" Seno meletakkan sebuah kantung kertas dari toko roti ternama di atas meja. Aroma mentega dan kopi mahal langsung menyeruak, mencoba mengusir sisa aroma sandalwood yang masih menempel di memori Ressa.
Ressa tidak mendongak. Jemarinya terus menari di atas keyboard, meski ia hanya mengetik kalimat yang tidak berarti. "Ini ruang kerja, Seno. Bukan kafe. Dan aku sedang sibuk."
Seno terkekeh, suara rendahnya yang dulu pernah membuat Ressa merasa nyaman, kini terdengar seperti gesekan amplas. "Galak sekali. Padahal aku hanya ingin memastikan bawahanku tidak pingsan di hari pertamanya bekerja."
Seno melangkah mendekat, bertumpu pada meja kerja Ressa. Matanya yang tajam mulai memindai wajah Ressa, lalu turun ke leher wanita itu yang tertutup kerah kemeja tinggi.
"Ada yang berbeda darimu," gumam Seno. Suaranya berubah lebih serius. "Kamu terlihat... gelisah. Apa karena kehadiranku, atau karena 'anak kecil' yang kemarin menjemputmu itu?"
Ressa akhirnya mendongak. Matanya dingin, sekeras es di kutub. "Seno, jika kamu ke sini bukan untuk urusan operasional, silakan keluar. Aku tidak punya waktu untuk nostalgia yang tidak berguna."
Seno tidak bergerak. Ia justru memiringkan kepala, senyum tipis yang manipulatif muncul di bibirnya. "Kamu tahu, Ressa? Anak kecil itu... dia punya tatapan yang berbahaya. Bukan tatapan seorang adik. Dia menatapku seolah ingin membunuhku."
"Mungkin karena kamu memang pantas untuk itu," balas Ressa tajam.
Seno tertawa, namun tawanya tidak mencapai mata. "Hati-hati, Res. Pria muda seperti dia biasanya hanya terobsesi karena kamu adalah 'piala' yang sulit didapat. Begitu dia menang, dia akan pergi. Berbeda denganku. Aku tahu cara menjagamu."
"Kamu tahu cara mengkhianatiku, itu yang benar," desis Ressa. "Sekarang, keluar!"
Jam makan siang menjadi medan perang yang berbeda. Ressa berusaha menghindari kantin, namun ia butuh udara segar. Namun, di lobi utama, ia melihat kerumunan kecil di dekat pintu kaca.
Di sana, di tengah hiruk-pikuk karyawan yang bergegas, Regin Ang berdiri.
Ia tidak lagi mengenakan jaket basah. Kali ini ia memakai kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan otot lengan yang keras dan urat-urat yang menonjol—hasil dari tahun-tahun ia tumbuh tanpa pengawasan Ressa. Rambutnya disisir ke belakang, menonjolkan rahangnya yang kokoh.
Setiap wanita yang lewat meliriknya, tapi mata Regin hanya tertuju pada satu titik: pintu lift tempat Ressa baru saja keluar.
"Mbak," panggil Regin. Suaranya yang bariton membelah keramaian lobi, membuat beberapa orang menoleh penasaran.
Ressa mempercepat langkahnya, merasa wajahnya memanas. "Regin? Kamu ngapain di sini? Bukannya harusnya kamu di kampus?"
Regin tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melangkah maju, memangkas jarak hingga Ressa harus mendongak. Ia menyerahkan sebuah tas kain kecil. "Mbak lupa bawa vitamin. Tadi malam Mbak kurang tidur, kan? Aku nggak mau Mbak sakit."
Suara Regin tidak keras, tapi cukup intim untuk membuat orang-orang di sekitar mereka mulai berbisik. "Vitamin" adalah alasan yang manis, tapi tatapan mata Regin yang terpaku pada bibir Ressa mengatakan hal lain.
Tiba-tiba, sebuah suara instruktif terdengar dari belakang mereka.
"Wah, perhatian sekali adiknya." Seno muncul dengan tangan di saku celana, berdiri di samping Ressa dengan gaya yang seolah-olah ia adalah pelindung wanita itu.
"Tapi ini area kantor, Nak. Sebaiknya hal-hal domestik diselesaikan di rumah."
Regin mengalihkan pandangannya pada Seno. Dalam sekejap, aura "anak titipan" yang sopan lenyap, berganti dengan aura predator yang siap menerjang. Regin tidak mundur. Ia justru maju satu langkah, membuat Seno terpaksa menegakkan punggungnya.
"Nama saya Regin," ucap Regin dengan nada yang sangat tenang, namun mengandung ancaman yang pekat. "Dan saya tidak sedang bicara dengan Anda."
Seno mendengus remeh. "Kamu masih sekolah, kan? Fokus saja pada bukumu. Ressa adalah manajer di sini, dia punya reputasi yang harus dijaga. Kehadiranmu hanya akan—"
"Reputasi Mbak Ressa akan baik-baik saja selama orang-orang seperti Anda tahu di mana tempatnya," potong Regin. Ia kembali menatap Ressa, mengabaikan Seno sepenuhnya seolah pria itu hanya debu di bahunya. "Mbak, aku tunggu di parkiran. Aku nggak akan pergi sampai Mbak selesai jam dua nanti. Kita ada janji makan siang, ingat?"
Ressa terpaku. Mereka tidak punya janji. Tapi melihat kilat di mata Regin, ia tahu ini adalah perintah, bukan ajakan.
"Regin, aku masih ada rapat—"
"Aku tunggu," ulang Regin. Ia mengulurkan tangan, merapikan anak rambut Ressa dengan gerakan yang sangat lambat dan sangat provokatif di depan Seno. Ibu jarinya sempat mengusap telinga Ressa, menciptakan sengatan panas yang membuat Ressa membeku. "Jangan lama-lama. Aku nggak suka menunggu sesuatu yang sudah jadi milikku."
Regin berbalik dan berjalan pergi dengan langkah angkuh, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di lobi itu. Seno mengepalkan tangannya, sementara Ressa merasa dunianya baru saja jungkir balik.
Sisa hari itu berjalan seperti mimpi buruk yang lambat. Ressa tidak bisa fokus. Setiap kali ia melihat jam, ia teringat Regin yang menunggunya di parkiran bawah yang pengap.
Pukul dua tepat, Ressa turun. Ia menemukan mobilnya, dan Regin sudah bersandar di sana, sedang memainkan ponselnya. Saat melihat Ressa, pria itu langsung membukakan pintu penumpang.
"Masuk, Res."
"Regin, apa yang kamu lakukan tadi di lobi itu benar-benar—"
"Masuk," ulang Regin. Kali ini tanpa senyum.
Ressa masuk. Regin menyusul ke kursi pengemudi. Begitu pintu tertutup, keheningan di dalam mobil terasa begitu padat. Regin tidak langsung menjalankan mesin. Ia justru berbalik, menatap Ressa dengan intensitas yang membuat oksigen di dalam kabin terasa habis.
"Dia menyentuhmu?" tanya Regin. Suaranya rendah, berbahaya.
"Siapa? Seno? Enggak, Gin. Kami cuma bicara soal pekerjaan."
"Dia masuk ke ruanganmu. Aku tahu itu. Aku bisa merasakannya," Regin mendekatkan wajahnya. "Bau parfumnya... aku benci bau itu ada di sekitarmu."
Regin meraih tangan Ressa, menggenggamnya erat, lalu mencium telapak tangan Ressa dengan lembut namun lama. "Jangan biarkan dia mendekat lagi. Atau aku benar-benar akan melakukan sesuatu yang membuat Mbak benci padaku."
"Regin, kamu terlalu berlebihan..."
"Aku tidak berlebihan," desis Regin. Ia melepaskan tangan Ressa dan mulai menyetir. "Aku hanya tidak ingin berbagi. Sedikit pun tidak."
Perjalanan pulang terasa lebih lama dari biasanya. Regin membawa Ressa ke sebuah tempat makan di pinggir jalan yang cukup sepi—tempat pecel lele langganan mereka dulu di kampung, atau setidaknya yang suasananya mirip.
Di sana, di bawah tenda plastik dengan cahaya lampu kuning yang remang-remang, tensi itu mulai mencair menjadi sesuatu yang lebih melankolis.
"Mbak ingat tempat ini?" tanya Regin sambil menyendok nasinya.
Ressa mengangguk. "Dulu kamu sering menangis kalau sambalnya terlalu pedas."
Regin tersenyum kecil, namun matanya tetap menatap Ressa. "Aku menangis bukan karena sambalnya. Aku menangis karena setiap kali kita ke sini, aku tahu Mbak akan segera pulang ke Jakarta dan meninggalkanku lagi."
Ressa terdiam. Ia tidak pernah tahu itu.
"Aku belajar siang dan malam hanya untuk satu tujuan, Res," lanjut Regin. Suaranya kini terdengar tulus, menghilangkan aura predatornya sejenak. "Aku ingin menyusulmu. Aku takut kalau aku terlambat, pria-pria seperti si b******k tadi akan mengambil tempat yang seharusnya milikku."
"Regin, aku jauh lebih tua darimu. Status kita..."
"Status bisa diubah," potong Regin. "Usia hanya angka. Tapi caraku menatapmu... Mbak tahu itu bukan cara seorang anak kecil menatap kakaknya."
Ressa tersedak kepala lele yang sedang ia makan. Regin dengan sigap memberinya minum, jemarinya menyentuh tangan Ressa, menenangkannya.
"Pelan-pelan, Sayang," gumam Regin.
Kata "Sayang" itu meluncur begitu saja dari bibir Regin, membuat jantung Ressa berdegup liar. Ia merasa seperti remaja yang baru pertama kali jatuh cinta, padahal ia adalah wanita dewasa yang seharusnya lebih bijak.
Malam harinya, di apartemen, ketegangan itu mencapai puncaknya. Ressa berusaha menghindari kontak mata, namun apartemen itu terasa terlalu kecil untuk mereka berdua.
Saat Ressa hendak masuk ke kamarnya, ia merasakan tarikan lembut di lengannya. Regin berdiri di sana, di keremangan lorong.
"Mbak mau lari lagi?" bisik Regin.
"Aku capek, Regin. Aku mau tidur."
Regin menarik Ressa mendekat, menyandarkan tubuh wanita itu ke dinding. Ia tidak menciumnya. Ia hanya berdiri di sana, sangat dekat, hingga Ressa bisa merasakan detak jantung Regin yang kuat di dadanya.
"Tidurlah," kata Regin lembut. Ia mengusap dahi Ressa, lalu turun ke pipi. "Tapi ingat satu hal: di setiap mimpi Mbak malam ini, aku akan ada di sana. Dan aku tidak akan selembut ini."
Regin mengecup kening Ressa lama, sebuah ciuman yang terasa seperti segel kepemilikan. Setelah itu, ia melepaskan Ressa dan masuk ke kamarnya sendiri, meninggalkan Ressa yang berdiri gemetar di lorong yang gelap.