Bab 12

1608 Kata
BAB 12: Jarak yang Dipaksakan Pernyataan Papa di dalam mobil tadi pagi terus berdengung di telinga Ressa seperti nyanyian kutukan. “Jaga dia seperti adikmu sendiri.” Kata-kata itu terasa jauh lebih berat daripada seluruh laporan audit tahunan yang menumpuk di meja kerjanya. Ressa sengaja pulang terlambat. Ia menghabiskan waktu di sebuah kafe dekat kantor, menatap cangkir kopi yang sudah mendingin sambil memikirkan binar mata ayahnya saat membicarakan Tante Ratna. Ia tidak bisa menghancurkan binar itu. Jika ia melanjutkan kegilaannya dengan Regin, ia bukan hanya mengkhianati kepercayaan Papa, tapi juga berpotensi merusak kesempatan ayahnya untuk bahagia di masa tua. Ressa menarik napas panjang, merapatkan blazer-nya, dan memutuskan untuk pulang dengan satu tekad: Tembok tinggi harus dibangun kembali. Saat ia menginjakkan kaki di apartemen pukul sembilan malam, suasana terasa hangat—terlalu hangat bagi selera Ressa. Tawa renyah Tante Ratna terdengar dari ruang tengah, bersahutan dengan suara bariton Papa yang sedang menjelaskan sesuatu tentang arsitektur modern. Mereka tampak sangat serasi duduk di sofa, dengan album foto lama yang terbuka di pangkuan mereka. "Ressa! Baru pulang, Sayang?" sapa Tante Ratna, wajahnya berseri-seri. "Ayo sini, Papa lagi cerita waktu kalian pertama kali pindah ke Singapura." "Maaf, Tante, Pa. Ressa capek banget, kerjaan lagi numpuk," sahut Ressa kaku. Ia bahkan tidak menoleh ke arah sudut ruangan, di mana ia tahu Regin sedang duduk di kursi bar dapur, memperhatikannya dengan tatapan tajam yang menembus punggungnya. "Mbak, ada titipan martabak di meja. Belum dingin," suara Regin terdengar datar, namun ada nada tuntutan di sana. "Nggak, makasih. Aku mau langsung mandi dan tidur," jawab Ressa tanpa menghentikan langkah menuju kamarnya. Klik. Ressa mengunci pintu kamar. Ia bersandar di sana, memejamkan mata. Jantungnya berdegup kencang bukan karena cinta, tapi karena rasa takut yang mencekik. Keesokan harinya, Ressa menerapkan strategi "Menjadi Bayangan". Ia bangun lebih pagi dari biasanya, berangkat sebelum siapa pun menyentuh dapur, dan pulang saat lampu ruang tamu sudah dipadamkan. Pesan-pesan w******p dari Regin tidak ada yang ia balas. “Res, kenapa lari?” “Mbak, aku tahu kamu dengerin obrolan Om Bram kemarin. Jangan jadi pengecut.” “Aku tunggu di meja makan malam ini. Kita bicara.” Ressa menghapus semuanya. Ia tidak boleh goyah. Namun, Regin bukan tipe orang yang bisa diabaikan begitu saja. Saat Ressa baru saja hendak melangkah keluar dari lobi kantornya di sore hari ketiga, sebuah motor besar sudah terparkir tepat di depan pintu masuk. Regin berdiri di sana, masih mengenakan jaket kulitnya, helm di tangan, dan ekspresi yang bisa membekukan darah siapa pun yang melihatnya. "Naik," perintah Regin singkat. "Regin, aku bisa pesan taksi online. Pulanglah, ada Tante Ratna dan Papa di rumah," Ressa mencoba melewati Regin, namun pergelangan tangannya dicekal kuat. Tidak menyakitkan, tapi sangat dominan. "Mereka sedang pergi makan malam di luar, Res. Berdua. Papa Mbak yang minta," bisik Regin, wajahnya merunduk hingga napasnya menerpa kening Ressa. "Hanya ada kita di apartemen malam ini. Jangan buat aku melakukan adegan keributan di depan kantormu." Dengan perasaan campur aduk antara marah dan takut, Ressa akhirnya naik ke boncengan motor itu. Sepanjang perjalanan, ia menjaga jarak sebisa mungkin, namun setiap kali Regin mengerem mendadak, tubuh mereka tetap bertabrakan, mengirimkan sengatan listrik yang berusaha keras Ressa tekan. Begitu mereka masuk ke apartemen yang sepi, Ressa langsung menuju kamarnya, namun Regin lebih cepat. Ia menahan pintu kamar Ressa dengan lengannya, menutupnya dengan bantingan pelan namun tegas. "Apa-apaan sih, Gin! Lepas!" bentak Ressa, emosinya tumpah. "Kenapa kamu berubah, Res? Karena Om Bram bilang dia suka sama Mamah?" Regin memojokkan Ressa ke dinding di samping lemari. "Kamu takut kita jadi saudara? Itu konyol!" "Itu nggak konyol, Regin! Itu kenyataan!" mata Ressa berkaca-kaca. "Papa itu duda yang kesepian selama bertahun-tahun. Dia menemukan kebahagiaannya pada Tante Ratna. Kalau aku egois mengikuti perasaanku padamu, dan Papa tahu... aku bakal menghancurkan dunia Papa!" "Dan kamu memilih menghancurkan duniaku?" suara Regin mendadak lembut, namun penuh luka. Ia meletakkan kedua tangannya di sisi kepala Ressa, mengurung wanita itu. "Kamu pikir aku bisa kembali menganggapmu 'Mbak Ressa' setelah semua yang kita lalui? Setelah kamu membalas ciumanku seperti malam itu?" Ressa memalingkan wajah, terisak pelan. "Kita harus berhenti. Sebelum semuanya terlambat. Sebelum Papa melamar Tante Ratna." "Terlambat?" Regin terkekeh sinis. Ia meraih dagu Ressa, memaksa wanita itu menatapnya. "Bagiku, sudah terlambat sejak sepuluh tahun yang lalu saat aku bilang aku akan menjemputmu. Dan bagimu... sudah terlambat sejak kamu membiarkan aku masuk ke kamar ini." Regin tidak menciumnya. Ia justru menjauhkan tubuhnya, memberikan jarak yang dingin. "Mulai besok, silakan pasang tembok setinggi apa pun, Res. Tapi ingat satu hal," Regin menatapnya dengan mata yang berkilat gelap. "Semakin kamu menjauh, semakin aku akan membuktikan kalau kamu nggak akan pernah bisa lepas dariku. Meskipun seluruh dunia memanggil kita saudara, bagiku... kamu tetap wanitaku." Regin keluar dari kamar, meninggalkan Ressa yang merosot ke lantai, menangis dalam sunyi di tengah apartemen yang terasa seperti penjara emosional. Jarak yang ia buat ternyata tidak membuatnya tenang, justru membuatnya semakin sesak. *** Malam itu, meja makan di apartemen Ressa ditata lebih rapi dari biasanya. Tidak ada rendang atau masakan kampung yang berminyak. Papa secara khusus memesan makanan dari sebuah restoran kelas atas—menu ala Barat yang lengkap dengan lilin aroma terapi yang menyala di tengah meja. Suasana yang seharusnya elegan itu justru terasa mencekik bagi Ressa. Ressa duduk dengan punggung tegak, jemarinya yang dingin meremas serbet kain di pangkuannya. Di seberangnya, Regin duduk dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Pria itu tampak tenang, namun matanya yang gelap sesekali melirik Ressa dengan tatapan yang seolah berkata, “Lihatlah sandiwara ini.” Tante Ratna tampil memukau dengan gaun lace warna biru tua. Rambutnya disanggul modern, memperlihatkan lehernya yang masih kencang. Di sampingnya, Papa mengenakan kemeja putih bersih, wajahnya tampak lebih cerah, seolah beban pekerjaannya di Singapura telah menguap begitu saja. "Terima kasih ya, sudah mau berkumpul malam ini," Papa membuka suara. Suaranya berat, penuh dengan wibawa. "Papa merasa... setelah sekian lama kita terpisah jarak, momen ini sangat berharga." "Tentu saja, Bram. Masa-masa seperti ini yang paling aku rindukan," timpal Tante Ratna dengan senyum manisnya. Ia menyentuh lengan Papa dengan gerakan yang sangat alami. Makan malam dimulai dengan denting alat makan yang beradu. Alurnya terasa lambat, hampir seperti siksaan bagi Ressa. Setiap suapan terasa seperti batu. Di bawah meja, Ressa merasakan ujung sepatu Regin menyentuh kakinya. Ressa segera menarik kakinya menjauh, namun Regin justru menggeser posisinya, kini lutut mereka bersentuhan. Ressa menegang. Tante Ratna terkekeh pelan. "Ressa itu perfeksionis sekali, Bram. Mirip kamu. Tapi jangan terlalu keras pada diri sendiri, Sayang. Hidup itu harus dinikmati, apalagi kalau ada berita bahagia." Papa meletakkan pisau dan garpunya, lalu berdeham. Ia meminum seteguk air putih sebelum menatap Ressa dan Regin secara bergantian. "Sebenarnya, ada alasan kenapa Papa mengajak kalian makan malam formal seperti ini," Papa memulai. Ia meraih tangan Tante Ratna di atas meja. "Papa dan Tante Ratna sudah bicara banyak. Kami menyadari bahwa apa yang kami rasakan belasan tahun lalu ternyata tidak pernah benar-benar hilang. Kami merasa... tidak ada alasan lagi untuk terus sendiri di masa tua ini." Jantung Ressa berdegup kencang. "Papa memutuskan untuk melamar Tante Ratna secara resmi," lanjut Papa dengan nada mantap. "Dan Ratna sudah menerimanya. Kami berencana untuk menikah bulan depan di Singapura, sebelum Papa kembali bekerja penuh di sana." Hening. Ressa menatap tangan ayahnya yang menggenggam erat tangan Tante Ratna. "Papa harap kalian berdua bisa menerima ini. Papa ingin kita menjadi satu keluarga yang utuh," ucap Papa. "Regin, kamu tidak keberatan kan kalau Om menjadi papamu?" Regin meletakkan alat makannya perlahan. Tatapannya mendadak menjadi tajam. Ia menatap Papa, lalu beralih ke Ressa. Bibirnya terbuka, siap mengeluarkan kata-kata yang Ressa tahu akan menghancurkan segalanya. "Sebenarnya, Om..." Regin memulai dengan suara rendah yang berbahaya. Ressa tahu Regin akan melakukan sesuatu yang nekat. Tanpa pikir panjang, di bawah meja, Ressa mengangkat kakinya dan menginjak kuat punggung kaki Regin dengan tumit sepatunya. Ia memberikan tekanan yang cukup menyakitkan sebagai peringatan bisu. Regin tersentak, rahangnya mengeras menahan nyeri yang tiba-tiba, namun matanya tetap terkunci pada Ressa. Ressa menatapnya dengan tatapan memohon, sebuah isyarat panik agar Regin tetap diam dan tidak membongkar rahasia mereka sekarang. "Sebenarnya... apa, Regin?" Papa bertanya, menanti kelanjutan kalimat Regin. Regin mengatur napasnya yang sempat tertahan. Ia merasakan denyut nyeri di kakinya akibat injakan Ressa, namun ia juga merasakan keputusasaan wanita itu. "Sebenarnya... aku merasa ini terlalu cepat, Om," ujar Regin akhirnya, mengubah kalimatnya di detik terakhir. Ia menolak rencana itu dengan cara yang halus namun tegas. "Maksudku, pernikahan adalah hal besar. Apa Om tidak berpikir ini akan terasa aneh bagi Mbak Ressa?" "Ressa sudah setuju, Gin. Kemarin kami sudah bicara di mobil," sahut Papa tenang. "Tapi aku keberatan," potong Regin lagi. Ia mengabaikan injakan Ressa yang semakin kuat di kakinya. "Aku tidak merasa kita perlu menjadi satu keluarga secara hukum hanya untuk membuktikan cinta Om dan Mamah. Biarkan saja seperti sekarang." "Regin! Jangan tidak sopan," tegur Tante Ratna dengan nada yang masih diusahakan lembut namun penuh peringatan. "Aku hanya jujur, Mah," Regin menoleh pada ibunya, lalu kembali ke Papa. "Dan soal ide pindah ke Singapura... aku menolak. Aku punya kehidupan di sini. Aku punya alasan untuk tetap di Jakarta." Papa tampak terkejut dengan ketegasan Regin. "Regin, Papa hanya memikirkan masa depanmu." "Masa depanku ada di sini, Om. Di apartemen ini. Dekat dengan Mbak Ressa," ucap Regin dengan penekanan pada kata terakhir yang membuat Ressa nyaris tersedak. Suasana makan malam yang semula penuh haru mendadak berubah menjadi tegang. Ressa merasa sesak yang luar biasa. Ia menarik kakinya dari atas kaki Regin, merasa lemas karena ketakutan. "Maaf... Ressa mendadak pusing. Ressa permisi ke kamar duluan," Ressa berdiri tiba-tiba, membuat kursinya berderit nyaring. Ia berlari masuk ke kamar, menutup pintu, dan langsung menguncinya. Ia menyandarkan tubuhnya di balik pintu, dadanya naik turun. Belum sempat ia mengatur napas, sebuah ketukan keras terdengar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN