Bab 13

1343 Kata
BAB 13: Mama minta Dadah Setelah Ressa melarikan diri ke kamar, suasana di meja makan mendingin seketika. Pak Bram, dengan wajah penuh rasa bersalah, memutuskan untuk menyusul Ressa ke depan pintunya, meninggalkan Tante Ratna dan Regin dalam keheningan yang mencekam di meja makan. Begitu sosok Pak Bram menghilang di balik lorong, Tante Ratna meletakkan garpunya dengan denting yang tajam. Ia menatap putranya, tidak lagi dengan wajah genit, melainkan wajah seorang ibu yang sedang menginterogasi anaknya. "Regin Ang. Apa-apaan sikapmu tadi?" bisik Ratna tajam. Regin menyandarkan punggungnya, melipat tangan di d**a dengan santai. "Aku hanya jujur, Mah. Aku tidak mau ke Singapura. Dan aku tidak setuju Mamah menikah dengan Om Bram." Ratna membelalak. "Kamu tahu kan Mamah sudah menunggu momen ini belasan tahun? Bram itu pria baik, mapan, dan dia satu-satunya yang bisa membuat Mamah merasa... ah, sudahlah! Kenapa kamu malah jadi penghalang?" Regin memajukan tubuhnya, menatap ibunya lekat-lekat. "Karena aku menyukai Ressa, Mah. Bukan sebagai kakak. Tapi sebagai wanita." Hening. Tante Ratna berkedip sekali. Dua kali. Mulutnya sedikit terbuka. "Kamu... apa?" "Aku menyukai Mbak Ressa. Aku ingin bersamanya. Dan kalau Mamah menikah dengan Om Bram, Mamah menghancurkan jalanku," ucap Regin tanpa keraguan sedikit pun. Ratna tiba-tiba menutup mulutnya untuk menahan tawa, tapi sedetik kemudian wajahnya berubah menjadi sangat serius. Ia memukul bahu Regin dengan serbet. "Kamu gila ya? Dia itu lebih tua darimu! Dia itu manajer sukses, kamu masih mahasiswa yang makannya saja masih Mamah kirimi lauk!" "Cinta tidak butuh ijazah, Mah," sahut Regin datar. "Dengarkan Mamah," Ratna mencondongkan tubuh, suaranya naik satu oktav namun tetap dijaga agar tidak terdengar sampai ke lorong. "Ressa itu terlalu berkelas untuk berondong keras kepala sepertimu. Menyerah saja, Gin. Mengalahlah pada Mamahmu ini. Mamah sudah janda lama sekali, kamu kan masih muda, cari saja mahasiswi yang seumuran!" "Nggak mau. Aku maunya Ressa." "Regin! Jangan jadi rival Mamah ya!" Ratna menunjuk anaknya dengan telunjuk yang berhias kutek merah. "Mamah sudah susah payah dandan, masak rendang sampai keringat dingin, hanya supaya Bram melirik Mamah. Kamu jangan merusak plot yang sudah Mamah susun!" "Mamah yang merusak plot-ku," balas Regin tak mau kalah. "Kalau Mamah jadi ibunya, aku harus memanggilnya apa? Kakak? Ogah." Ratna mendengus, lalu ia mengambil sepotong daging terakhir di piringnya dengan gemas. "Pokoknya kamu harus ikut ke Singapura. Titik! Jangan mengganggu bulan madu Mamah nanti." "Kita lihat saja siapa yang bakal menang, Mah," Regin bangkit dari kursi, memberikan senyum provokatif pada ibunya. "Kalau Om Bram tahu anaknya lebih suka tinggal denganku daripada ikut ke Singapura, Mamah bisa apa?" "Anak durhaka!" gumam Ratna sambil melemparkan butiran kacang polong ke arah Regin, namun Regin sudah lebih dulu menghindar sambil tertawa rendah. Sementara itu, di balik pintu kamar, Ressa masih terduduk lemas. Ia tidak mendengar perdebatan lucu bin sengit antara ibu dan anak itu, namun ia bisa merasakan atmosfer di apartemennya telah berubah total. Tak lama, pintu kamarnya diketuk lagi. Pelan. Bukan Regin. "Ressa... ini Papa." Ressa membuka pintu sedikit. Pak Bram berdiri di sana dengan wajah lesu. "Papa mau bicara sebentar." Papa masuk dan duduk di kursi kerja Ressa. "Regin menolak keras ikut ke Singapura. Dan dia sepertinya sangat keberatan Papa menikah dengan Ratna. Menurutmu... apa Papa terlalu egois?" Ressa menelan ludah. Ia ingin bilang 'Iya', tapi melihat wajah ayahnya yang tampak kembali "hidup" sejak ada Tante Ratna, ia tidak tega. "Mungkin Regin hanya kaget, Pa," jawab Ressa pelan. "Dia bilang... dia tidak ingin meninggalkanmu sendirian di sini," Papa menatap Ressa dalam-dalam. "Apa menurutmu Papa harus membiarkan dia tetap di sini bersamamu, sementara Papa dan Tante Ratna di Singapura?" Jantung Ressa mencelos. Itu adalah skenario terbaik sekaligus paling berbahaya dalam hidupnya. Tinggal berdua dengan Regin tanpa pengawasan orang tua, namun dengan status "saudara tiri" yang membayangi mereka. "Ressa... Ressa terserah Papa saja," bisik Ressa, membuang muka. *** Sinar matahari pagi itu tidak sehangat kecemasan yang menyelimuti hati Ressa. Namun, Tante Ratna tidak membiarkan Ressa tenggelam dalam pikirannya. Dengan alasan ingin merayakan "hari pertunangan tidak resmi", Ratna menyeret Ressa ke sebuah swalayan besar di pusat kota. "Res, kamu tahu tidak? Sejak dulu Tante selalu bermimpi punya anak perempuan sepertimu," ujar Ratna sambil mendorong keranjang belanja dengan penuh semangat. Ia mengambil beberapa botol pembersih lantai dan camilan impor. "Cantik, mandiri, dan yang paling penting... tidak keras kepala seperti Regin." Ressa hanya tersenyum tipis. "Regin hanya punya prinsip sendiri, Tante." "Prinsip atau obsesi? Ah, sudahlah. Pokoknya, kalau nanti Tante sudah sah jadi Mamamu, kamu harus sering-sering ajak Tante jalan-jalan ya," Ratna merangkul lengan Ressa dengan akrab, memberikan tekanan psikologis yang halus bahwa status mereka akan segera berubah. Namun, saat sampai di lorong s**u, wajah Ratna mendadak pucat. Ia meraba tas selempangnya yang terbuka lebar. "Ressa! Dompet Tante!" Ressa panik dan segera memeriksa tasnya sendiri. Matanya membelalak. "Tas Ressa juga terbuka, Tante! Sial, kita kecopetan!" Mereka tertegun di depan tumpukan keranjang belanja yang sudah penuh. Total belanjaan itu pasti tidak sedikit. Ressa menghela napas, mencoba tetap tenang. "Tante, ya sudah. Kita pulangkan saja barang-barangnya ke rak masing-masing. Kita batalkan belanjanya. Kita lapor satpam dulu." Ratna tidak menjawab. Matanya yang tajam justru tertuju pada seorang pemuda jangkung yang baru saja masuk ke supermarket. Pemuda itu mengenakan jaket hoodie mahal dan tampak seperti anak orang kaya yang sedang disuruh belanja oleh ibunya. "Kamu tunggu sini, Res. Jangan bergerak," bisik Ratna dengan nada yang tiba-tiba berubah penuh rencana. "Tante mau ke mana?" Tanpa menjawab, Ratna mengekor pemuda itu. Ressa hanya bisa menonton dari jauh dengan dahi berkerut. Ratna mengikuti pemuda itu dari lorong sereal sampai ke lorong sabun cuci. Setiap kali pemuda itu menoleh, Ratna pura-pura sibuk melihat label harga. Akhirnya, si pemuda merasa risih. Ia berhenti dan berbalik. "Maaf, Tante... kenapa ikuti saya terus ya?" Ratna langsung memasang wajah paling melankolis yang pernah Ressa lihat—akting kelas atas. Matanya berkaca-kaca seketika. "Iya, maaf ya... Kamu mirip banget sama anak Tante yang hilang. Sudah dua tahun Tante tidak lihat wajahnya. Pas lihat kamu... jantung Tante rasanya mau copot. Boleh tidak Tante selfie sama kamu?" Pemuda itu tampak kikuk, namun rasa kasihan mengalahkan kecurigaannya. "Heum.. bo-boleh, Tante." Cekrek! Ratna tersenyum lebar melihat hasil fotonya di ponsel. "Oh, ya... nanti kalau Tante dadah dari jauh, kamu tolong bilang 'd**a Mama' ya? Biar rindu Tante hilang sedikit saja. Boleh ya, Nak?" "Hah? I-iya, Tante. Boleh," jawab si pemuda, merasa canggung tapi ingin segera mengakhiri interaksi ini. Ratna memberikan kode jempol pada Ressa yang berdiri bingung di kejauhan. Ratna kemudian dengan percaya diri membawa keranjang belanjaan mereka yang penuh ke kasir. Ressa melihat Ratna menunjukkan foto di ponselnya kepada kasir sambil menunjuk-nunjuk pemuda tadi di lorong seberang. Entah apa yang ia bicarakan, tapi kasir itu tampak mengangguk-angguk maklum. Begitu semua barang selesai di-scan dan dimasukkan ke kantong belanja, Ratna menenteng semuanya dengan santai. Saat sampai di dekat pintu keluar, ia berbalik dan melambai heboh ke arah pemuda tadi. "d**a, Nak!" Si pemuda, yang ingin menepati janjinya pada "tante malang" itu, membalas dengan lambaian tangan. "d**a, Mah!" teriaknya cukup keras agar Ratna mendengar. Ratna langsung "ngiprit" keluar supermarket, menarik tangan Ressa agar lari lebih cepat menuju parkiran. Sementara itu, di kasir... Si pemuda meletakkan dua botol minuman soda dan sebungkus keripik ke meja kasir. "Totalnya 800.000, Mas," ucap si kasir datar. Pemuda itu melongo. "Hah? Nggak salah, Mbak? Belanjaan saya dikit loh, cuma ini!" Kasir itu menunjuk ke arah pintu keluar. "Lho, kan sekalian sama punya Mamanya tadi, Mas. Katanya Mas yang bayar semua. Tadi juga sudah dadah-dadahan, kan?" "Hah?????" Pemuda itu membeku, menyadari bahwa ia baru saja menjadi korban penipuan paling sopan di abad ini. Di dalam mobil, Ressa tertawa sampai air matanya keluar, namun di sisi lain ia merasa ngeri. "Tante! Itu parah banget! Bagaimana kalau anak itu lapor polisi?" "Polisi tidak akan percaya, Res. Kan dia sendiri yang panggil Tante 'Mama'," Ratna tertawa puas sambil merapikan rambutnya di spion. "Itu namanya surviving skill. Regin harusnya belajar dari Tante, bukan malah pakai otot." Ratna menoleh pada Ressa, senyumnya mendadak menjadi serius. "Res, Tante melakukan itu karena Tante ingin kita tetap merayakan hari ini. Tante ingin kamu tahu, Tante akan melakukan apa pun untuk menjaga kebahagiaan keluarga baru kita. Termasuk memastikan Regin tidak merusak semuanya." Ressa terdiam. Tawa itu menghilang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN