Bulan terkejut dan langsung menoleh ke sebelah kiri.
"Ini sudah masuk jam kerja, jadi masukkan ponselmu ke dalam tas, atau saya sendiri yang akan memasukkan ponsel kamu ke dalam tas saya?" George mengangkat ponsel Bulan yang kini sedang digenggam olehnya.
Lagi-lagi kesabaran Bulan diuji, akan tetap di balik itu semua ia terus memgumpati bosnya.
Kenapa semakin ie sini tingkah bosnya semakin aneh?
Apa ini ujian untuk Bulan menjelang dirinya resign?
"Baik, Pak." Bulan mengambil ponselnya dan langsung memasukkan ke dalam tas, ia tak memiliki kesempatan untuk membalas pesan dari Noah terlebih dahulu.
Meeting segera dimulai dan itu artinya Bulan sudah tidak bisa membuka ponselnya untuk beberapa jam ke depan.
***
Perjalanan dari Jepang - Indonesia, bukanlah perjalanan yang sebentar, membutuhkan waktu beberapa jam untuk tiba.
Noah mengabadikan setiap momen perjalanannya dan ia mengirim semua foto dan video yang ia ambil itu kepada kekasihnya.
Meskipun pesannya belum ada yang dibalas, akan tetapi Noah tetap mengirim dokumentasi perjalanannya kepada Bulan.
Ia tahu mungkin kekasihnya itu sedang sibuk, karena ini adalah jam kerja Bulan.
"Setelah menikah, aku tidak akan membiarkanmu bekerja lagi, Bulan. Kamu akan memiliki banyak waktu untuk bersantai, untuk bermanja denganku. Aku sudah menyiapkan tempat tinggal untuk kita di Jepang, nanti kita pelan-pelan wujudkan mimpi kita di sana ya, Sayang," gumam Gama sambil menatap foto seorang wanita cantik pada ponselnya.
Setelah itu, ia menoleh ke arah kanan, Noah melihat pemandangan dari atas pesawat.
Semuanya nampak kecil, bahkan terhalang awan.
Bibirnya tersenyum karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan kekasihnya, namun entah kenapa tiba-tiba perasaannya menjadi tidak enak.
Ia merasa pesawat itu tidak akan pernah membawanya turun, ia merasa setelah ini ia akan hilang.
Noah mengusap wajahnya sendiri, mungkin itu hanya perasaannya saja karena sedikit takut ketika melihat ketinggian.
Tak ingin terus bergelut dengan pikiran buruknya, Noah memutuskan untuk memejamkan mata. Hampir semalaman ia tidak bisa tidur, karena selain tak sabar untuk segera pulang, ia juga takut kesiangan karena harus pergi ke bandara pagi-pagi.
Pria itu tidur dan terbang ke alam mimpi.
"Bulan ... Sayang ..." panggilnya, tapi masih dengan mata terpejam.
Tak lama kemudian, Noah membuka kedua matanya, ia menoleh ke kanan dan ke kiri, ternyata dirinya masih berada di dalam pesawat.
Ia bermimpi mengejar Bulan yang berlari begitu kencang sampai mereka dipisahkan oleh kabut yang membuatnya tak bisa melihat apapun.
Lagi-lagi Noah dibuat overthinking oleh mimpinya, ia hanya bisa menarik nafas perlahan untuk menenangkan hati dan pikirannya.
***
Di kantor, beberapa kali Bulan melihat jam, ia takut telat ke bandara.
Karena setelah jam kerja selesai, ia akan langsung menuju Bandara untuk menjemput Noah.
"Sekitar dua jam lagi Mas Noah tiba di Bandara, aku harus siap-siap untuk bertemu dengan calon suamiku. Uhhhh tak sabarnya ..." gumam Bulan sendiri sambil berkacak untuk memastikan kalau penampilannya sudah tepat untuk bertemu dengan calon suaminya.
"Bul, kamu ikut saya sekarang ya!" Suara itu tiba-tiba saja muncul dari pintu ruangannya yang membuat Bulan langsung menoleh.
Benar saja, George sudah berdiri di depan pintu ruangannya, sejak kapan pria itu membuka pintu.
"Ikut kemana, Pak?" tanya Bulan yang sebenarnya merasa kesal kepada bosnya itu.
"Bertemu Klien," jawab George yang masih berdiri di ambang pintu.
"Tapi satu jam setengah lagi jam kerja saya sudah selesai, Pak." Bukan melirik ke arah jam tangan yang dikenakan olehnya.
"Hanya sebentar, tanda tangan, setelah itu selesai kita langsung kembali ke kantor," jelas George dengan enteng.
"Baik, Pak!" Akhirnya, dengan berat hati Bulan menyetujui ajakan bosnya.
Ia mengikuti George datang ke sebuah restoran untuk bertemu dengan klien.
Bulan merasa tak tenang, karena ia harus menjemput Noah di Bandara.
Ia tak ingin kekasihnya menunggu lama di sana.
Sebenarnya Noah bisa saja meminta keluarganya untuk menjemput atau naik taksi, akan tetapi karena ia dan Bulan memiliki rencana untuk langsung datang ke sebuah tempat setelah dari Bandara, jadi mereka sepakat untuk bertemu di Bandara.
Setelah itu, Noah yang akan menyetir sampai ke tempat tujuan mereka.
Waktu terus berjalan, Bulan uring-uringan tidak jelas karena bosnya cukup lama, yang tadinya niat tanda tangan saja, akhirnya diiringi dengan perbincangan panjang sampai bulan merasa bete.
Setelah satu jam lebih, akhirnya mereka keluar dari tempat itu dan akan kembali ke kantor.
"Pak, katanya cuma sebentar, tapi lama banget, ini sampai jam kerja saya habis," protes Bulan setelah mereka kembali ke dalam mobil.
Ia sudah habis kesabaran dan pada akhirnya berani protes pada bosnya.
"Sudah, tenang saja, nanti saya tambahkan bonus untuk kamu." Lagi-lagi George membalas dengan enteng.
Bulan semakin merasa tak tenang, karena kemungkinan Noah sudah tiba di Bandara.
Akhirnya, bulan memutuskan untuk membuka ponselnya, cukup banyak foto dan video yang dikirimkan oleh Noah padanya.
Akan tetapi, ia tidak sempat membuka satu-persatu. Saat ini, ia lebih memilih untuk menanyakan keberadaan pria itu terlebih dahulu.
"Kamu udah sampai di Bandara, Mas?" Bulan mengirim pesan itu kepada Noah.
Sebenarnya ia ingin menelpon Noah, akan tetapi ia merasa tak nyaman karena di sana ada George.
Tak lama kemudian, pesannya dibalas oleh Noah.
"Udah, Sayang. Aku udah tiba lima belas menit yang lalu. Kamu masih dimana? Udah otw belum? Hati-hati ya nyetirnya, jangan sambil main HP."
Bulan terkejut ketika membaca pesan dari Noah, ternyata pria itu sudah menunggunya sedari tadi.
"Ya ampun, kamu udah sampai, Mas. Maaf ya nunggu lama, ini aku tadi ada kerjaan di luar sama bos resek. Jadinya aku telat jemput kamu. Aku masih di jalan mau balik ke kantor, Mas. Abis itu aku ambil mobil dan jemput kamu di bandara. Maaf aku telat, Mas. Ini semua gara-gara bos resek itu, untung sebentar lagi aku resign. Awas aja, akan ku maki-maki dia kalau aku udah bukan karyawannya lagi."
Bulan mengirim pesan panjang lebar, sekaligus ia mencurahkan isi hatinya kepada Noah.
Bulan menatap ke arah George dengan sorot mata sinis.
"Kenapa kamu lihatin saya kayak gitu?" tanya Geo yang kebetulan menoleh ke arah Bulan.
"Nggak," balasnya singkat, ia kembali mengarahkan sorot matanya pada layar ponsel karena Gama sudah membalas pesannya.
"Sudah, jangan bete, kita kan mau ketemu. Gini aja, daripada kamu capek harus jemput aku ke Bandara lagi, mending sekarang aku naik taksi aja, aku langsung ke kantor kamu. Kita ketemu di sana aja, abis itu kita pergi ke tempat spesial bareng-bareng. Biar gak kemalaman juga, karena ini udah sore."
Noah membalas pesan itu dengan tutur kata yang menenangkan.
Bulan tersenyum tipis, Noah memang pria baik dan penyabar.
"Oke, Mas, aku tunggu kamu di kantor ya, hati-hati!" Tanpa berpikir panjang lagi, Bulan langsung menyetujui keputusan Noah tadi.
***
Setelah mendapat persetujuan dari Bulan, Noah langsung memesan taksi yang akan mengantarkannya ke kantor Bulan.
Sekitar setengah jam ia akan tiba di sana.
Pria itu naik ke sebuah taksi, tak lupa ia juga mengabari Bulan kalau saat ini dirinya sudah berada di dalam taksi dan siap menuju kantornya.
Noah juga mengirim foto gerbang tol, karena saat ini mobil yang ditumpanginya akan segera memasuki tol.
Perjalanannya cukup lancar karena tol itu tidak macet, Noah menikmati perjalanannya dengan jantung yang berdebar kencang dan hati tak sabar karena sebentar lagi akan bertemu dengan kekasihnya setelah tiga tahun mereka menjalin hubungan jarak jauh.
Namun, ketenangannya itu terusik ketika mobil yang ditumpanginya mulai oleng dan ....
Bruk!