Suara benturan keras tersebut berasal dari mobil yang ditumpangi Noah ketika menabrak pembatas jalan dengan kecepatan tinggi sampai membuat mini bus tersebut terjungkal.
Diduga sopir yang mengemudi mobil tersebut mengantuk sehingga lengah dan tidak bisa mengendalikan kendaraannya.
Mini bus berwarna biru itu terjungkal dengan kondisi yang sudah tidak karuan.
Seketika orang-orang yang melintas di jalan tol tersebut terpaksa menghentikan kendaraannya ketika melihat kecelakaan tunggal.
Tak lama kemudian, terdengar suara sirene ambulans yang melaju kencang dan segera mengevakuasi korban untuk segera dibawa ke rumah sakit agar segera mendapat perawatan intensif.
***
Di tempat yang berbeda, Bulan masih berada di perjalanan, tiba-tiba saja perasaannya tak enak.
Sedari tadi ia dan Geo terjebak macet, bahkan hampir lima belas menit mobilnya tidak bergerak di tengah jalan.
Wanita itu beberapa kali melirik jam tangan yang dikenakannya, ia sudah tak sabar untuk segera tiba di kantor.
Karena perkiraan kurang lebih sepuluh menit lagi Noah akan tiba di kantornya.
Ia tak ingin membuat pria itu kembali menunggu lama.
"Kenapa gelisah banget, Bul? Kebelet pipis?" tanya Geo seraya menoleh ke arah wanita di sampingnya.
"Iya, Pak, cepetan ya, sebentar lagi saya ngompol ini," jawab Bulan, padahal itu hanya akal-akalannya saja agar Geo mempercepat laju roda empatnya.
"Waduh, bahaya. Mau berhenti dulu, Bul? Di depan ada pom bensin, kita bisa berhenti dulu biar kamu gak ngompol di mobil," tawar Geo.
"Nggak, Pak. Saya cuma bisa pipis di kantor," jawab Bulan lagi yang membuat Geo seketika mengerutkan keningnya.
"Bisa pilih-pilih tempat gitu?" gumam pria itu dengan wajah heran.
Akan tetapi, ia semakin mempercepat roda empatnya sehingga tak lama kemudian mereka tiba di kantor.
Bulan segera membuka pintu mobil dan turun tanpa menunggu Geo berbicara terlebih dahulu, karena sebenarnya jam kerja dirinya sudah selesai.
Wanita itu setengah berlari masuk ke dalam kantor, ia akan mengambil kunci mobilnya yang tertinggal di ruangan, setelah itu ia akan menunggu Noah di depan, ketika pria itu tiba, mereka akan langsung pergi ke tempat tujuan.
Geo yang masih berada di dalam mobil, menatap punggung Bulan yang perlahan mulai menjauh dan menghilang dari pandangan.
Kedua bibir pria itu tersenyum tipis, entah apa yang sedang berada di dalam pikirannya saat ini.
***
Setelah mengambil kunci mobilnya, Bulan kembali keluar dari kantor, ia melihat mobil Geo masih ada di tempat semula, berarti pria itu belum pulang.
Akan tetapi, Bulan tidak melihat pria itu ataupun berpapasan dengannya, apa mungkin Geo sudah masuk ke dalam ruangannya.
Tak mau pusing dengan bosnya yang agak aneh itu, Bulan berdiri di dekat mobilnya, ia mencoba mengirim pesan kepada Noah.
"Mas, kamu dimana? Masih jauh gak? Ini aku udah di kantor, aku tunggu kamu di depan. Cepat sampai calon suamiku. Aku udah gak sabar mau ketemu kamu."
Bulan mengirimkan pesan itu dengan bibir tersenyum mereka, jantungnya berdebar kencang, belum bertemu saja ia sudah salah tingkah duluan.
Namun, entah kenapa hatinya malah merasa tak enak, entah mungkin ini karena ia terlalu grogi akan bertemu dengan Noah.
"Kok Mas Noah lama balasnya ya?" gumam Bulan sendiri.
Wanita itu kembali melihat layar ponselnya, pesan yang dikirim olehnya untuk Noah belum dibuka.
Bulan merasa penasaran, mungkin pria itu sedang tidur di dalam mobil.
Bulan memutuskan untuk melakukan panggilan telepon, ia akan membangunkan Noah karena sesuai prediksinya sebentar lagi pria itu akan tiba.
Cukup lama panggilan telepon darinya berdering sampai di detik-detik terakhir sebelum panggilan telepon itu terputus sendiri, Bulan melihat panggilan teleponnya diangkat oleh Noah.
"Halo, Mas ...."
"Halo, selamat sore! Dengan siapa saya berbicara?"
Bukannya suara Noah yang bulan dengar, melainkan suara seorang wanita yang membuatnya langsung overthinking.
"Ini siapa ya?" Bulan langsung melempar pertanyaan.
"Kami dari pihak rumah sakit Harapan Kita, ponsel ini kami temukan dari saku celana korban kecelakaan tunggal. Kami sedang menunggu keluarga korban untuk menandatangani surat administrasi karena korban membutuhkan perawatan intensif sekarang juga. Jika Anda adalah keluarga atau kerabat korban, harap segera datang ke rumah sakit Harapan Kita, terima kasih ...."
Seketika lutut bulan terasa lemas, mulutnya menganga dengan kedua mata yang terbuka lebar.
Ia tak mampu berkata-kata, bahkan tak terasa ponsel yang ia pegang sampai terjatuh ke atas lantai.
"Kecelakaan ...." Bulan akan kembali bertanya kepada orang yang mengangkat panggilan telepon tadi, akan tetapi ponselnya terjatuh dan panggilan telepon itu sudah terputus.
"Bul, kamu kenapa?" Suara itu mengejutkan Bulan.
Geo tiba-tiba saja muncul dari sampingnya dan mengambil ponsel Bulan yang tergeletak di atas lantai.
"Pak Geo?" Bulan menatap heran ke arah pria itu, seharusnya Geo muncul dari arah depan, jika pria itu baru keluar dari kantor.
Akan tetapi, kenapa Geo muncul dari arah samping? Apa jangan-jangan sedari tadi pria itu ada di dalam mobilnya?
"Hei, Bul, kenapa? Ada masalah? Ini ponsel kamu sampe jatuh." Geo menunjukkan ponsel milik Bulan yang terlihat retak karena terbentur keras pada lantai.
"Tidak, Pak. Terima kasih, saya pergi dulu." Bulan mengambil ponselnya, ia segera masuk ke dalam mobil.
"Mas Noah kecelakaan?" gumannya dengan air mata yang menetes begitu saja.
Ia menarik nafas dengan perlahan sambil mengusap d**a, Bulan berusaha menenangkan diri agar ia bisa secepatnya datang ke rumah sakit, karena Noah pasti sangat membutuhkan penanganan.
Bulan akan memasukkan kunci mobil dan menyalakan roda empatnya.
Akan tetapi, sebelum itu ia melihat jemari tangannya yang bergetar hebat dan telapak tangannya mengeluarkan keringat dingin.
Bulan dihantui rasa takut dan khawatir yang luar biasa, otaknya mendadak blank dan seketika ia lupa dimana rumah sakit Harapan Kita.
Bulan merasa ia tidak bisa pergi sendiri, bisa bahaya jika ia memaksakan diri untuk menyetir.
Wanita itu keluar dari mobil, yang pertama ia lihat adalah Geo, ternyata sedari tadi pria itu masih berdiri di samping mobilnya.
"Kenapa? Sepertinya ada yang sedang tidak beres denganmu, Bul." Geo menatap intens ke arah Bulan.
"Pak, tolong antar saya ke rumah sakit sekarang." Tanpa menunggu persetujuan dari Geo, wanita itu menarik tangan bosnya dan meminta Geo untuk segera masuk ke dalam mobilnya dan duduk di kursi kemudi.
"Siapa yang sakit, Bul? Ibumu sakit?" tanya Geo yang masih merasa heran dan bingung.
"Ke rumah sakit Harapan Kita, sekarang! Ini urgent!" pinta Bulan dengan nada bicara sedikit kencang bahkan terdengar membentak.
Geo terdiam, ia melihat ada yang sedang tidak beres dengan Bulan.
Tanpa melempar pertanyaan lagi, pria itu langsung menyalakan mesin mobil Bulan.