Secercah Kenangan

1000 Kata
"Cukup nangisnya di depan Ibuk ya, sekarang kamu mandi biar seger, terus wudhu, shalat dan lanjutkan tangismu di hadapan Allah. Meminta jalan yang terbaik. Allah menyukai tangis hambanya ketika berdoa," tutur bu Ayuni dengan nada bicara yang sangat lembut. "Iya, Buk. Bulan ke kamar dulu." Bulan segera bangkit dari pangkuan ibunya. Wanita itu berpamitan untuk menuju kamarnya. Bulan segera menjalankan perintah ibunya, ia mandi dan menunaikan shalat isya diakhiri dengan doa yang begitu dalam diiringi tangis di tengah keheningan. Setelah semuanya selesai, Bulan membuka ponselnya, ia membuka kontak Noah, sekarang hp nya sepi, tak ada pesan bahkan panggilan telepon dan video dari pria itu. Bulan merasa seperti ditinggal mati, ia duduk di tepi ranjang, Bulan membaca ulang pesan-pesan yang dikirimkan Noah padanya. Ia juga menatap foto pria itu ketika berada di bandara yang dikirimkan padanya. Bulan sampai men-zoom foto Noah yang sedang duduk di bandara. Pria itu tersenyum manis, Bulan memperhatikan matanya yang sipit dan menggambarkan kebahagiaan yang begitu besar karena mereka akan segera bertemu. Namun, kebahagiaan itu seketika sirna dalam sekejap. Tak terasa air mata Bulan menetes begitu saja sampai membasahi layar ponselnya. Dadanya kembali terasa sesak, ia merasa seperti dipaksa untuk melepaskan sesuatu yang sudah ia genggam dengan erat. "Mas Noah! Aku kangen kamu, Mas! Biasanya jam segini kamu hubungi aku, nanyain gimana kerjaan aku hari ini, nyuruh aku tidur, minta fotoku saat ini. Aku kangen kamu, Mas!" Bulan memecahkan tangisnya. Ia menggenggam erat ponselnya yang masih menampilkan foto Noah sampai tangannya bergetar. Bulan menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur dengan tangis yang tak kunjung reda. Semakin larut, rasa kehilangan itu semakin nyata yang membuatnya sulit untuk terlelap. Bulan menangis sesenggukan sampai ia merasa lelah dengan tangisnya sendiri dan perlahan tertidur dengan ponsel yang masih berada pada genggamannya. *** Suara dering telepon membuat kedua mata wanita itu terbuka dengan perlahan, ada panggilan masuk pada ponselnya. Tanpa menunggu lama lagi, Bulan langsung mengangkat panggilan telepon itu dan menempelkan ponsel pada telinganya. "Halo, Mas! Aku kangen banget sama kamu," ucap Bulan tanpa melihat nama kontak yang melakukan panggilan telepon padanya. "Kangen?" Suara itu membuatnya terkejut. Bulan terlonjak kaget dan langsung melihat layar ponselnya, dan benar saja nama yang tertera pada ponselnya itu adalah nama bosnya, George. "Astaga, Pak Geo!" Bulan membuang nafas kasar. "Bapak ngapain telepon saya malam-malam?" oceh Bulan dengan nada kesal. "Malam? Bangun Bul! Lihat sekarang jam berapa?" Bulan langsung mengarahkan sorot matanya pada jam dinding di kamar itu. Kedua matanya langsung terbuka lebar. "Ya ampun, jam setengah tujuh! Kenapa cepat sekali? Perasaan aku baru tidur." "Sepertinya kamu tidur larut. Pagi ini kita ada meeting, kamu jangan sampai telat. Makanya saya telepon kamu, biar kamu tidak telat," ucap Geo di sebrang telepon. "Ck ... Hari ini saya izin gak masuk kantor ya, Pak," ucap Bulan dengan nada melas, berharap bosnya itu memberikan simpati padanya. "Dalam rangka?" tanya Geo. "Dalam rangka saya sakit, Pak." "Sakit apa?" Geo kembali melempar pertanyaan yang membuat Bulan merasa kesal. "Sakit hati! Hari ini saya gak masuk kantor ya, Pak," ucap Bulan lagi dengan nada yang semakin terdengar melas. "Baiklah, karena kamu tidak bisa masuk kantor, biar saya yang ke rumah kamu, kita meeting di rumah kamu saja," tutur Geo yang membuat kedua mata Bulan langsung terbuka lebar. "Stres! Saya ke kantor sekarang!" Bulan mematikan sambungan telepon itu secara sepihak. "Punya bos kok aneh banget. Kan yang punya perusahaan dia, yang may meeting dia, aku cuma ngatur jadwal dan menyiapkan berkas-berkas saja, bisa-bisanya dia mau meeting di rumahku. Curiga kalau aku akan diangkat jadi CEO," geturu Bulan sendiri seraya turun dari atas ranjang. Mau tidak mau, hari ini ia harus memukau aktivitasnya seperti biasa lagi. Meskipun ia sama sekali tidak memiliki semangat. *** Hari ini Bulan disibukkan dengan agenda bosnya yang padat, terlebih lagi Geo yang bisa kapan saja merubah jadwal tergantung moodnya, hal itu membuat Bulan benar-benar merasa diuji kebenarannya. Ia merasa bersyukur karena telah berhasil melewati hari ini tanpa memenggal kepala Geo yang membuat vertigonya hampir kambuh. "Bul, jangan lupa besok bawakan saya sarapan nasi kuning. Nasi kuning yang gak kuning-kuning banget. Nanti saya kasih ongkir buat kamu," teriak Geo sebelum Bulan masuk ke dalam mobilnya. Bisa-bisanya pria itu memesan nasi kuning untuk besok. "Bul, jangan pura-pura budek, saya tahu kamu denger ucapan saya. Ingat, nasi kuning yang gak kuning-kuning banget!" teriak pria itu lagi yang tak tahu malu, padahal ia adalah pimpinan perusahaan, tapi bisa-bisanya sikap Geo terlihat seperti security kantor. "Yang kuningnya kayak t*i ya, Pak?" sahut Bulan yang langsung masuk ke dalam mobil sebelum ia kena semprot oleh bosnya. Ini semua berawal dari Bulan yang membara bekal nasi kuning, saat itu Geo yang merasa penasaran dengan rasa nasi kuning, mencicipi bekal milik Bulan sampai ludes. Sekarang, pria itu malah ketagihan nasi kuning buatan tetangga Bulan. Sudah lelah ditimpa kerjaan yang menumpuk, ditambah lagi dengan bos yang aneh. Bulan terus menggerutu seraya menjalankan mobilnya. Ia akan datang ke rumah sakit terlebih dahulu untuk menjenguk Noah. "Mas Noah, aku datang, aku bawakan kue lapis kesukaanmu ya. Katamu, pas kamu lagi di Jepang, kamu pengen banget makan kue lapis. Hari ini, aku bawakan buat kamu ya, nanti aku suapin kamu pelan-pelan sambil ku ceritakan bagaimana awal mula perkenalan kita," tutur Bulan sendiri setelah membeli kue lapis untuk kekasihnya. Bulan meletakkan kue itu dengan sangat hati-hati di kursi sebelah, ia kembali menjalankan mobilnya sambil sesekali menoleh ke arah kue lapis rainbow tersebut. Ia sudah membayangkan ketika ia menyuapi Noah dan sedikit demi sedikit menceritakan soal mereka kepada pria itu, agar ingatan Noah bisa secepatnya kembali. Bulan datang ke rumah sakit dengan perasaan gembira, ia masuk ke dalam bangunan itu dengan sebuah kue lapis yang berada di pangkuannya. Bulan langsung menuju ruangan yang kemarin menjadi tempat Noah dirawat. Ia membuka pintu ruangan itu, namun di sana hanya ada seorang suster yang sedang membereskan brankar kosong tanpa penghuni. Bulan seketika menghentikan langkahnya, ia menatap ke arah brankar pasien yang kemarin menjadi tempat Noah berbaring, akan tetapi sekarang tempat itu tak berpenghuni. "Maaf, Sus, pasien yang disini kemana ya?" Bulan memberanikan diri untuk bertanya kepada suster itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN