Menginginkanmu

1047 Kata
"Kenapa, Pak?" tanya Bulan ketika menyadari George menghentikan langkahnya, ia menoleh ke arah pria itu yang masih terdiam. "Tidak apa-apa, kalau dia calon suamimu, kenapa dia mengusirmu?" Geo melanjutkan langkahnya dan menutup pintu ruangan itu dengan rapat. "Dia kehilangan sebagian ingatannya, ingatan dia berhenti disaat dia baru lulus kuliah yang dimana waktu itu dia belum mengenalku," jelas Bulan dengan air mata yang kembali menetes. "Terus gimana? Apa kamu gak jadi nikah sama dia?" Tiba-tiba Geo bertanya seperti itu yang membuat Bulan kembali menoleh ke arahnya. "Harus tetap jadi, aku akan mengembalikan ingatannya. Aku akan membantu Mas Noah untuk mengingat semuanya. Dia harus ingat kalau aku adalah calon istrinya," jawab Bulan dengan penuh ambisi. "Yakin? Ingatan yang hilang itu membutuhkan waktu yang lama dan proses yang panjang untuk kembali. Apa kamu bisa bertahan dengan sikap dia yang seperti itu? Maaf, saya bukan bermaksud ikut campur, tapi tadi aku melihat sepertinya dia tidak ingin bertemu denganmu," tutur Geo yang membuat Bulan semakin merasa down. Namun, itu semua tidak menggoyahkan niatnya untuk mengembalikan semua ingatan Noah, terutama tentang dirinya. Bulan yakin, Noah pasti akan mengingat semuanya. "Saya yakin, dia adalah calon suamiku dan dia sudah berjanji untuk menikahiku, aku akan membuat dia mengingat semuanya," jawab Bulan lagi dengan penuh keyakinan, akan tetapi air matanya tidak bisa menutupi kebohongan kalau saat ini hatinya benar-benar terluka. "Semangat, kamu yang sabar ya!" Geo menepuk bahu Bulan dengan lembut. Pria itu memberikan senyum tipis, meski sorot matanya terlihat sedikit berbeda. "Terima kasih, sekarang saya antar Bapak ke kantor dulu, baru setelah itu saya pulang ke rumah." Bulan mengusap air matanya dengan cepat. "Tidak usah, saya tahu kamu pasti capek dan butuh istirahat. Sebentar lagi malam, lebih baik kamu langsung pulang saja," titah Geo dengan nada suara yang terdengar sendu, entah apa yang sedang dirasakan pria itu. "Tapi Bapak gimana?" Bulan sedikit menengadahkan kepala ketika menatap wajah pria itu, karena Geo memiliki tubuh yang lebih tinggi darinya. "Biar saya menyuruh pak sopir untuk membawa mobil saya ke sini. Kamu pulang saja, saya tahu kamu lelah." Tatapan Geo penuh perhatian. "Terima kasih banyak, Pak." Bulan sedikit menunduk, setelah itu mereka berjalan bersama keluar dari rumah sakit. Bulan masuk ke dalam mobilnya, sementara Geo masih berdiri untuk menunggu sopir yang menjemputnya datang. Bulan menyetir sendiri, tangan kanannya memutar stir mobil, akan tetapi tangan kirinya sibuk menyeka air mata yang sedari tadi tak berhenti mengalir. Hatinya kembali terasa remuk, seharusnya sekarang ia sudah bersama dengan Noah dan menikmati rindu yang selama tiga tahun tertahan. Namun sekarang, setelah mereka bertemu pun Bulan masih saya disiksa oleh rasa rindu itu. Langit semakin gelap mengantarkan siang bertemu dengan malam. Sang rembulan mulai menampakkan sinarnya, tapi tidak dengan sang rembulan yang kini sedang meneteskan air matanya karena menangisi sebuah takdir yang sungguh di luar dugaannya. Bulan pulang ke rumah dengan perasaan hampa, hatinya seketika mati diterpa kenyataan yang begitu berat. Ia langsung memarkirkan mobilnya ke garasi, karena setelah ini ia tidak akan keluar lagi. "Assalamu'alaikum," ucapnya seraya membuka pintu rumah yang terlihat sepi dan senyap. Memang, sejak bapaknya meninggal, rumah itu semakin terasa sepi. Karena tidak ada obrolan hangat diantara kedua orang tuanya. Sayup-sayup Bulan mendengar suara lantunan ayat suci Al-Qur'an yang bersumber dari kamar ibunya. Bulan berjalan dengan gontai ke arah kamar sang ibu yang terletak di lantai satu. Pintu kamar itu tidak tertutup rapat, bulan berdiri di depan pintu kamar ibunya. Ia melihat seorang wanita paruh baya sedang duduk di atas sajadah dengan sebuah mushaf yang berada di atas pangkuannya. "Assalamu'alaikum, Ibuk," ucapnya dengan nada lesu, bahkan suaranya bergetar karena sedang menahan tangis. "Waalaikumsalam, eh kamu udah pulang." Bu Ayuni segera menutup Alqur'an itu dan mengakhiri bacaannya. "Ibuk ...." Bulan masuk ke dalam kamar, ia langsung menjatuhkan diri di hadapan sang ibu sebelum wanita paruh baya itu bangkit dari atas sajadahnya. Bulan memecahkan tangis sejadi-jadinya sampai membuat mukena berwarna putih yang sedang dikenakan oleh sang ibu, basah karena air matanya. Bulan menumpahkan tangis yang sedari tadi ia tahan. "Loh, kenapa datang-datang malah nangis? Katanya hari ini kamu mau ketemu Noah. Gimana pertemuannya? Cerita dong sama Ibuk, pasti Nak Noah ganteng banget ya pulang dari Jepang? Besok langsung suruh ke rumah aja ya, biar Ibuk masukkan yang banyak, biar nanti ...." "Buk ...." Bulan merangkul tubuh sang ibu dengan tangis yang semakin memecah. Bu Ayuni menghentikan ucapannya, ia yakin ada yang sedang tidak beres dengan putrinya. "Ada apa, Bulan? Cerita sama Ibuk, apa yang sebenarnya terjadi?" Bu Ayuni mengusap punggung putrinya dengan lembut. Bulan melepaskan pelukannya, ia mengusap air mata secara kasar dan berusaha menghentikan tangisnya. "Tenangkan dirimu dulu, ceritakan pelan-pelan sama Ibuk." Wanita paruh baya itu mengusap air mata putrinya dengan sangat lembut. Bulan menarik nafas beberapa kali untuk menetralisir rasa agar dadanya tidak begitu sesak. "Buk ... Aku berhasil menemui Mas Noah, tapi aku tidak berhasil menemukan ingatannya," ucap Bulan yang mengawali ceritanya dengan deraian air mata, meski ia sudah berusaha untuk menghentikan tangisnya, namun tetap saja rasa sedih itu tak kunjung sirna. "Maksudnya?" Buk Ayu menatap heran ke arah putrinya. "Mas Noah kecelakaan disaat perjalanan menuju kantorku, Buk. Rencananya kita akan bertemu di kantorku sebelum berangkat bareng ke tempat yang sudah kita rencanakan. Mas Noah kecelakaan sampai kehilangan sebagian ingatannya. Dia sama sekali tidak mengingatku, Buk. Dia benar-benar lupa sama aku, Buk. Aku tidak tahu gimana caranya untuk mengembalikan ingatan Mas Noah." Bulan kembali memecahkan tangis di ujung kalimatnya. "Astaghfirullah ... Ya Allah. Terus sekarang kondisinya gimana?" Bu Ayuni terlihat khawatir. "Mas Noah udah siuman, keadaanya sudah mulai membaik, tapi tidak dengan ingatannya. Dia tidak mengingat aku, dia malah menganggap aku orang asing dan dia mengusirku, Buk. Kenapa semuanya menjadi begini? Kenapa Tuhan mengambil harapan dan kebahagiaan aku secara tiba-tiba? Apa Tuhan membenciku, Bu? Kenapa Tuhan mengutukku seperti ini? Apa tidak cukup dengan mengambil Bapak dari hidupku, sekarang aku kembali merasakan kehilangan laki-laki yang aku cintai ...." "Husssstttt ... Sudah ya, jangan selalu menyalahkan Tuhan. Tidak semua hal buruk itu adalah kutukan dari Tuhan. Kamu tenang ya, sesuatu yang sudah ditentukan untukmu, tidak akan tertukar, apalagi menjadi milik orang lain. Kamu harus menerimanya dengan ikhlas, hidup bukan hanya detik ini saja. Kamu masih muda, perjalanan kamu masih sangat panjang. Jika memang Noah adalah jodohmu, maka Allah akan mempersatukan dengan sebaik-baik takdir yang telah Allah tentukan." Bu Ayuni memeluk putrinya. Ia berbicara seraya mengusap punggung Bulan dengan sangat lembut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN