Sejak kedatangan Varelly hari itu, rumah Noah tak lagi sama. Bulan menyadarinya dari hal-hal kecil dari cara Noah lebih sering menunggu di ruang tamu sore hari, dari pintu depan yang kini lebih sering terbuka, dari tawa yang kembali terdengar setelah lama hanya diisi suara televisi. Dan benar saja. Tiga hari setelah pertemuan pertama mereka, Varelly datang lagi. Kali ini tanpa pemberitahuan. “Rel?” Noah berdiri dari sofa saat melihat sosok itu muncul di ambang pintu. “Lo nggak kerja?” tanya Noah sambil menatap ke arah wanita itu. Varelly terkekeh sambil mengangkat kantong plastik berisi kopi. “Kerja. Tapi gue izin pulang cepet. Bosen.” Bulan yang sedang menyapu teras membeku di tempatnya. Lagi. Selalu dia. “Noah,” panggil ibu Noah dari ruang makan, “temannya datang lagi?” Bu

