“Bisa kubantu?” sebuah tawaran datang dari belakang tubuhku. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemilik suara, yang tidak lain Sean. Kami baru selesai bekerja, orang yang kami temui sudah pamit lebih dulu menyisakan aku dan Sean. Tak ingin berlama-lama di satu ruangan dengan pria itu meski sudah tahu aku punya kekasih masih tetap menatapku dengan jenis tatapan sama. Aku bahkan pernah mengatakan padanya secara langsung untuk berhenti mendekatiku sebab aku telah mencintai seseorang. “Fay?” tegur Sean lagi. Aku akhirnya berbalik, terkejut dengan jarak yang sangat dekat hingga refleks aku melangkah mundur. Sayangnya hanya bisa satu langkah sebab belakangku sudah bertubruk dengan mobilku. Aku memaksa memakai mobil sendiri, tanpa pengawalan. Daddy sempat menelepon, seperti biasa jadi

