“Daddy yang menelepon,” beritahuku. Alyan melihat ke sekeliling, tak hanya ramai dari suara-suara pengunjung di sana tetapi juga musik yang mengentak-mengentak gendang telinga. Jika aku mengangkat telepon, Daddy akan langsung tahu aku sedang di mana. “Ikut aku.” Alyan menarikku menjauh dari sana, menemukan tempat yang pas, aku pasti bisa mendengar suara Daddy. “Jawab, Fay.” ujar Alyan karema aku tidak juga menjawab telepon Daddy. “Teleponnya berakhir.” Pasti karena terlalu lama kami berpikir. “Kamu telepon saja. Aku akan menunggu di sana.” Alyan menjauh, seolah memberi aku privasi untuk bicara dengan Daddy. Aku segera menelepon balik, menggigit lidahku sambil menunggu nada sambung. Tidak lama, Daddy juga pasti masih memegang ponsel pas aku menelepon. “Dad, sorry tadi tidak se

