Suasana makan malam di kediaman Edmund lebih mirip acara berkabung kematian di tengah perang yang tak henti terjadi. Suram dan mencekam. Tidak satupun diantara mereka bicara, sibuk dengan pikiran masing-masing. Emy sibuk menenangkan hati sedangkan Zavion sibuk meyakinkan hati kalau ucapan Edmund hanya bertujuan untuk memprovokasinya. Lalu bagaimana dengan Edmund? Tentu menjadi penikmat sejati. Dia seperti pemburu yang puas karena berhasil mendapat dua buruan dalam satu lesakkan anak panah. Edmund tidak akan berhenti bermain sampai lawannya tumbang tak berdaya, harus mengakui kekalahan kalau tidak jangan harap lingkaran ini berakhir. "Bagaimana hidangannya, nona Nohan?" Tanya Edmund selesai menyeka mulutnya dengan serbet. "Hidangan yang lezat," jawab Emy, nafasnya tercekat. Edmund mena

