Zavion menghela napas panjang berulang kali tanpa mengatakan apapun. Saat ini Hera tidak bisa diberi pandangan karena sudah terlalu lama menanamkan diri sebagai pembawa sial. "Bagaimana kesanmu bertemu ibuku?" Zavion mengalihkan pembicaraan. Tidak berharap ucapannya direspon tapi siapa sangka gadis itu mengangguk kecil. "Sangat baik, karena itu aku takut." Hera kembali menatap lurus kedepan, hamparan bukit padang rumput yang asri sama sekali tidak membuatnya tenang. Entah kenapa dia merasa akan ada bahaya besar yang datang menerjang dan semua itu karena dirinya. Otaknya tidak mampu menikmati apa yang tersaji didepannya karena sebentar lagi harus membayar semua yang lakukannya sampai saat ini. "Hidup dalam ketakutan akan membuatmu sengsara, kemanapun melangkah tidak akan ada ketenangan,

