Angin sore berhembus lembut di sekitar area hotel mewah milik Vincent William, yang baru saja dilaunching satu tahun lalu. Hotel itu berdiri megah, menjulang setinggi sembilan lantai, dengan arsitektur perpaduan gaya Eropa klasik dan modern. Di sinilah pesta pernikahan ulang Vincent dan Nancy akan digelar. Di sinilah seluruh kota akan menyaksikan, siapa yang kini berdiri di sisi pewaris utama keluarga William. Dan dari seberang jalan, tepat di balik jendela kaca kafe kecil yang bersebelahan dengan hotel, berdiri satu sosok. Matanya merah. Matanya tajam. Matanya penuh luka dan dendam. Sophia. Wanita itu menatap tajam ke arah hotel tempat Vincent dan Nancy akan mengikrarkan janji pernikahan kedua mereka, dengan kehamilan Nancy sebagai mahkota dari semua kemenangan itu. Tangannya mengepal

