Sophia melangkah masuk ke dalam klub malam miliknya dengan tumit tinggi yang menggetarkan lantai. Musik dentum keras menyambutnya, lampu warna-warni berkedip tak beraturan, dan ruangan penuh oleh aroma alkohol mahal, parfum menggoda, dan peluh ambisi. Dia tersenyum sinis, menatap dari lantai dua ke arah kerumunan di bawah. Klub malam ini sekarang sudah menjadi salah satu yang paling eksklusif di kota—bukan hanya tempat hiburan, tetapi pusat pertemuan para pebisnis, politisi, hingga selebriti yang haus sensasi. Klub itu adalah pencapaiannya. Sebuah mahkota di tengah reruntuhan hidupnya yang lain. Namun tetap saja, Sophia masih tinggal di gedung tua tersembunyi jauh dari kota. Belum waktunya muncul di permukaan. Belum waktunya mengumumkan kebangkitannya. Tangannya menyentuh pagar balkon,

