Vincent menarik tangan Nancy dengan lembut, namun perempuan itu kembali menepis. Air matanya menetes, menandakan luka yang terlalu dalam. Luka karena merasa dikhianati di saat dirinya sedang berjuang mempertahankan kehamilan yang begitu rapuh. Dia menggenggam perutnya perlahan, seolah menyadarkan diri bahwa ada nyawa yang harus dijaga, bahkan ketika hatinya sendiri hancur. “Aku tidak tahu harus percaya siapa, Vincent. Tapi aku tahu satu hal. Aku tidak bisa bertahan seperti ini. Kamu... dan dia... Kenapa harus saat aku seperti ini?” Vincent bersimpuh di hadapan Nancy. Matanya basah, wajahnya pucat karena takut kehilangan wanita yang paling dicintainya. “Nancy, dengar aku. Aku bersumpah demi anak-anak kita, demi bayi yang sedang kamu kandung... aku tidak pernah menyentuh Naura. Aku pingsan

