Hari kedua ospek dimulai lebih awal dari biasanya. Matahari bahkan belum terlalu tinggi saat Vivienne sudah berdiri dengan tangan menyilang, memeluk tubuhnya sendiri yang masih terasa dingin oleh embun pagi. Rambut panjangnya dikuncir kuda, wajahnya polos tanpa riasan, tapi tetap mencolok di antara kerumunan mahasiswa baru lain yang tampak kelelahan seperti dirinya. Vivienne mendengus pelan. Napasnya keluar seperti desahan malas. Matanya mengitari lapangan luas kampus yang sudah ramai dengan suara para senior berteriak, instruksi yang membentak, dan mahasiswa baru yang mulai tertunduk kelelahan. "Kalau saja Papa nggak maksa ikut kegiatan bodoh ini…" gumamnya dalam hati. "Aku pasti udah tidur nyenyak di kamar sekarang." Sebenarnya dia tahu alasannya tetap harus mengikuti ospek. Vincent,

