Bab 120

1298 Words

Petang turun perlahan di vila pegunungan yang selama sebulan terakhir menjadi tempat persembunyian Nancy dan anak-anaknya. Udara mulai dingin, dan aroma kayu dari perapian memenuhi ruangan. Di sudut ruang tengah, Nancy duduk bersandar di sofa panjang, menyelimuti dirinya dengan selimut hangat. Kedua anak kembarnya sudah tertidur di kamar, dan hanya suara angin yang berbisik pelan menembus jendela. Carla duduk di sebelah putrinya, menyuguhkan secangkir teh chamomile. Wajah wanita paruh baya itu tampak tenang namun penuh keprihatinan. Ia tahu betul, meski Nancy tak lagi menangis seperti hari-hari pertama, luka di hati anaknya belum benar-benar pulih. Dengan gerakan lembut, Carla mengusap rambut Nancy, seperti dulu saat putrinya masih kecil dan terbangun dari mimpi buruk. "Sayang," ucap Ca

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD