Bab 108

2303 Words

Udara di dalam vila tua itu begitu lembap. Jendela-jendela tinggi dibiarkan tertutup rapat dengan tirai tebal. Dinding-dinding batu menyerap hawa dingin malam dan menghembuskannya kembali ke setiap sudut ruangan, menciptakan suasana seperti liang sempit yang mengurung waktu. Di salah satu kamar paling belakang, Sophia duduk di lantai yang kotor dan dingin. Rambutnya kusut, wajahnya penuh noda, kulitnya pucat. Kakinya terikat rantai pendek yang dipaku ke dinding. Rantai itu hanya cukup membuatnya bisa berpindah dari ujung kasur tua ke sudut ruangan tempat ember plastik diletakkan sebagai toilet darurat. Hari-hari berlalu dalam hitungan gelap dan kelaparan. Pintu kamar itu hanya dibuka dua kali sehari. Setiap pagi dan sore. Seorang lelaki tua berpakaian serba hitam dengan wajah kosong tan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD