Bab 114

1618 Words

Hari itu langit Jakarta mulai meredup. Awan menggantung perlahan di langit barat, pertanda senja akan segera datang. Di kediaman besar keluarga Hartawan, Nancy sedang duduk di kamar pribadinya, mengenakan gaun tidur satin berwarna merah marun, rambutnya diikat separuh, dan wajahnya tersenyum puas. Di meja kecil di samping tempat tidur, ponselnya tergeletak dengan layar yang baru saja mati—pesan terakhir dari Carla yang mengabarkan bahwa jasad Sophia telah dikubur. Di tempat sepi, tanpa batu nisan, tanpa upacara, tanpa siapa pun yang menangisi kepergiannya. Nancy menatap kosong ke depan, tapi dalam hatinya, ia tengah merayakan kemenangan. Ini bukan kemenangan biasa. Ini adalah penghapusan terakhir dari masa lalunya. Masa lalu yang menyakitkan. Masa lalu yang nyaris membuat hidupnya terjer

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD