Hari itu langit mendung, seolah alam ikut berkabung atas lenyapnya satu jiwa yang selama ini terlupakan dunia. Jauh dari gemerlap kehidupan rumah Vincent dan Nancy, di sudut paling suram dari kota yang tak disebutkan, di sebuah bangunan kosong yang sudah ditinggalkan, terdapat satu ruangan sempit yang berbau apek, lembap, dan pengap. Dinding-dindingnya penuh retakan. Lantainya dingin dan kasar. Di situlah Sophia menghabiskan detik-detik terakhir kehidupannya, terasing, terbuang, dan tak diinginkan siapa pun. Tubuhnya lunglai, berbaring di sisi ruangan dengan kaki dan tangan yang masih terikat rantai. Nafasnya tersengal tak beraturan. Pipi tirusnya kotor oleh debu dan air mata yang mengering. Rambut panjangnya kusut, menempel di wajah dan leher yang basah oleh keringat dingin. Bibirnya pec

