Malam itu, Jeremi duduk di sofa apartemennya, memandang kosong ke arah lampu kota Jakarta yang berkelip dari balik jendela besar. Cangkir kopinya sudah dingin sejak setengah jam lalu, tapi ia bahkan tak berniat meneguknya. Pikiran dan hatinya terasa seperti medan perang—penuh kebingungan, penyesalan, dan ketakutan yang sulit ia uraikan. Sudah berminggu-minggu sejak kejadian malam lamaran itu berantakan. Setiap kali ia mengingat wajah Vivienne yang pucat dan matanya yang berkaca-kaca, Jeremi merasa dadanya dihantam ribuan jarum. Ia tahu itu bukan salah Vivienne, bahkan bukan salah dirinya sepenuhnya. Tapi tetap saja, rasa bersalah itu menggerogoti pikirannya. *"Harusnya aku lebih tegas sama Clara sejak awal... Harusnya aku pastikan semua aman sebelum hari itu... Harusnya aku nggak biarin

