“Saya mau bicara serius sama kamu. Dalam pembicaraan nanti, saya tidak menerima penolakan apapun.” Setelah sekian lama terdiam, William akhirnya buka suara. Ajakan yang lebih tepatnya pemaksaan, membuat Sella mau tidak mau menurutinya. Keduanya kini berjalan menuju ruang tamu. Karena sejak awal William yang ingin bicara, maka dari itu Sella memilih mengunci mulutnya rapat-rapat. Entah apa yang akan pria itu katakan, yang jelas menurut Sella bukan obrolan baik. “Kapan mau menyelesaikan semuanya?” Kening mulus Sella mengerut mendengar pertanyaan William. Menyelesaikan semuanya? Memangnya apa yang sudah dia mulai? Baru mulut Sella ingin menjawab, Wiliam sudah lebih dulu berdeham. Sella kembali bungkam, menunggu apa penjelasan selanjutnya. “Gugurkan kandunganmu. Akan ada dua opsi, antara

