Johan menelan ludah mendengar panjang lebar maminya berbicara. Sedikit kesal karena mami justru menceramahi dirinya seolah memang dialah yang salah seratus persen. Padahal Johan sendiri merasa bahwa dia juga korban ketidaksabaran kedua orang tuanya yang ingin segera melihat dia menikah. Andai saja mami dan papi mau sedikit bersabar sampai dia menemukan wanita tambatan hati yang mampu menggetarkan jiwa raganya seperti Moza, sudah barang tentu Johan tak akan mungkin berpaling hati sebab sangat mencintai sang wanita. Namun, berbeda dengan perasaan yang ia miliki pada Mita. Masih ngambang di awang-awang. Johan belum menyadari seratus persen apakah dia memiliki rasa cinta untuk Mita. Apakah hatinya selalu bergetar hebat kala bersama wanita yang telah menjadi istrinya itu? Ya, Mita memang lain

