"Makanya itu aku hati-hati naik turunnya." Kini Moza yang sudah duduk di kursi kerjanya, didekati oleh Mita. Gadis berjilbab itu menyeret kursi agar dapat duduk lebih dekat dengan sahabatnya. "Tadi siapa yang datang? Sepertinya aku pernah lihat. Tapi lupa siapa dan di mana." Moza berucap sembari mengingat-ingat. "Kayaknya kamu memang pernah bertemu deh, Moz!" Dan Mita ingat pada saat di resto waktu lalu, maminya dokter Johan sempat bertemu dengan Moza. Parahnya lagi, Mami Jeni juga tahu betul jika putranya menyukai Moza. Apa sedakat itukah hubungan Dokter Johan dengan maminya? Ah, kenapa Mita harus memikirkan hal itu. Bukan urusannya juga. "Masak, sih!" Kepala Mita manggut-manggut. "Wanita tadi maminya dokter Johan." Mata Moza membelalak, "Uwa~ Mita sudah jadi bestie dengan calon me

