"Itu!" tunjuk suster pada jari manis Johan yang ada di atas meja. Johan mendongak menatap pada suster, lalu beralih pada jarinya. Ia mengangkat tangan kanannya. "Ini?" "Iya. Bukankah itu cincin kawin, ya? Dan setahu saya baru beberapa hari ini dokter Johan memakainya." Johan tersenyum. "Rupanya ada yang ngeh juga," ucapnya lebih pada diri sendiri. "Jadi beneran dokter Johan sudah menikah?" Bukannya menjawab, pria itu justru memberikan perintah. "Panggil pasien pertama, sus. Keburu malam nanti selesainya." Suster membuka suara ingin protes karena Johan belum menjawab pertanyaannya. Namun, melihat mimik muka Johan yang seolah tidak ada keinginan menjawab, suster tak mau memaksa. Kapan-kapan saja dia akan bertanya lagi. Sekarang lebih baik dia ikuti saja apa yang Johan perintahkan agar

