"Encok, kan? Kubilang juga apa. Jangan aneh-aneh deh, Mas. Sadar umur. Sudah tua juga. Aku tau kamu masih perkasa. Tapi nggak harus pakai banyak gaya," omel Moza pada suaminya sembari tangan sibuk mengolesi punggung dan pinggang Sakha yang sakit sebab salah urat. Pria itu hanya meringis ketika tangan halus sang istri mengenai otot tubuhnya yang tidak bisa lagi diajak kompromi. Usia memang tak sanggup membohongi bahwa organ-organ tubuhnya tak lagi bisa selentur dulu. Sekarang, gerak bersemangat sedikit saja malah encok yang mendera. Memalukan saja. "Iya ... iya. Mas minta maaf. Nggak jadi enak-enak malah mengecewakan kamu ujung-ujungnya." Bagaimana pun juga Sakha masih mengerti akan istrinya. Dia sebagai suami tidak mau egois dengan mengejar kepuasan semata tanpa peduli pada istrinya. Ti

