Pagi itu rumah terasa tenang. Zeya masih terlelap di ranjang dengan napas teratur, sementara Kenzo sudah rapi setelah mandi. Ia menatap wajah istrinya sejenak, lalu menunduk untuk mengecup keningnya perlahan. “Tidurlah, Sayang. Aku selesaikan urusannya,” bisiknya pelan. Kenzo keluar kamar tanpa banyak suara. Koridor lengang, hanya terdengar detik jam dinding. Begitu sampai di dapur, ia mendapati Tasha sudah sibuk di depan kompor. Aroma sup dan roti panggang memenuhi ruangan. Tasha menoleh cepat begitu mendengar langkah Kenzo. “Pagi, Dokter,” ucapnya sambil tersenyum. “Saya siapkan sarapan. Mau sup hangat atau telur dadar?” Kenzo berdiri di ambang pintu, wajahnya datar. Tidak ada basa-basi. “Tasha. Mulai hari ini kamu tidak perlu bekerja lagi di rumah ini.” Senyum Tasha langsung memuda

