Selepas badai gairah yang menguras tenaga mereka, kamar kembali sunyi, hanya tersisa napas yang perlahan teratur. Zeya terbaring lemas di pelukan Kenzo, wajahnya masih memerah, rambutnya basah oleh keringat, dan tubuhnya bergetar kecil sisa kepuasan yang begitu intens. Kenzo menunduk, mengecup keningnya, lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya. Beberapa menit kemudian, tangisan halus terdengar dari bouncer di sudut ruangan. Kei mulai menggeliat, wajah mungilnya memerah, matanya setengah terbuka. Refleks, Zeya segera bangun, tubuhnya masih lemah tetapi insting keibuannya lebih kuat dari rasa lelah. Ia mengenakan gaun tidur tipis lalu menghampiri bouncer. “Sayang kecil, Mama di sini,” ucap Zeya lembut sambil menggendong Kei ke pelukannya. Bayi itu tenang seketika, tangisnya berh

