Langkah kaki Zeya terasa berat saat ia menjauh dari pintu kamar Tasha. Jantungnya masih berdegup kencang, seolah baru saja berlari sekuat tenaga. Pandangan matanya kosong, tetapi di kepalanya suara itu terus bergema. Suara Tasha. Suara rintihan samar yang menyebut nama suaminya, nama Kenzo, dengan penuh gairah. Setiap langkah menuju kamar sendiri seakan menyeret beban tak kasat mata. Ia membuka pintu perlahan, berharap Kenzo tidak mendengar derit tipis engselnya. Begitu masuk, matanya langsung menangkap bayangan samar Kenzo di balik pintu kamar mandi. Terdengar gemericik air yang jatuh deras, tanda pria itu sedang mandi. Zeya berdiri sejenak di ambang pintu, tubuhnya gemetar. Ia ingin berlari memeluk Kenzo, meminta jaminan bahwa hanya dirinya yang ada di hati suaminya. Namun di sisi lain

