Malam pertama setelah Nina dan si kembar pulang dari rumah sakit terasa melelahkan. Pukul dua dini hari, kamar sudah dipenuhi suara tangisan bayi. Bima yang sejak tadi duduk di kursi samping ranjang langsung terlonjak bangun. “Iya, iya, Arya, Aruna, Ayah di sini,” katanya sambil meraih kedua bayi mungil yang berada di boks kecil di samping tempat tidur. Nina masih berbaring lemah, matanya membuka sedikit. “Mas, biar aku—” Bima cepat menunduk, menyentuh lembut bahu istrinya. “Nggak usah, Sayang. Kamu masih butuh istirahat. Biar aku yang gantiin popoknya dulu.” Dengan gerakan agak kaku, Bima menggendong Arya yang menangis lebih keras, sementara Aruna masih merengek kecil. Dia menimang sambil menepuk pelan punggung putranya. “Sabar ya, Nak. Ayah lagi belajar, jadi agak grogi. Jangan ketaw
Download by scanning the QR code to get countless free stories and daily updated books


