Malam ini, Bima mengajak Nina untuk makan malam bersama di kediaman orang tuanya. Undangan itu datang dari Bu Sania yang ingin menjamu menantunya setelah pulang dari Singapura. Awalnya, Bima sempat menolak dengan alasan ingin menjaga kondisi mental Nina. Namun, setelah Bu Sania meyakinkan bahwa Pak Angga tidak akan berulah, barulah Bima setuju untuk hadir. Begitu mobil berhenti di depan rumah yang sudah lama ditinggalkan Bima, seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik keluar dari pintu utama dengan senyum lebar. Nina, yang sejak perjalanan tampak gugup, menghela napas panjang. “Kenapa, Sayang?” tanya Bima sambil meliriknya. “Tiap kali melihat senyum Mama, rasanya ada yang aneh muncul dalam diriku,” jawab Nina. “Entah kenapa, rasa gugupku tiba-tiba menghilang.” Bima tidak l

