“Pak—” panggil Galang begitu melihat kedatangan Bima. Bima langsung berjalan cepat ke arah meja Galang dengan napas terengah. Begitu duduk, dia langsung bertanya, “Di mana istriku?” “Ada di kamar, Pak. Sudah aku kirim nomor kamarnya,” jawab Galang. Bima hendak berdiri lagi, bersiap naik ke kamar. Namun Galang cepat memanggilnya. “Pak, biarkan Nina tenang dulu.” Bima terdiam sejenak, menoleh ke arah Galang. “Apa dia masih menangis?” “Sudah tidak,” Galang menggeleng pelan. “Hanya saja dia masih emosi.” Bima menghela napas panjang, lalu menyandarkan tubuh ke kursi. “Seharusnya aku nggak ninggalin dia sendirian tadi.” “Justru aku lebih lega dia punya kesempatan membalas Febi dengan cara barbar seperti tadi.” Bima menoleh cepat, matanya terbelalak. “Barbar?” Galang menyeruput sisa kopi

