Resepsi akhirnya usai lewat tengah malam. Setelah berjam-jam berdiri di pelaminan, meladeni tamu, tersenyum di depan kamera, Nina dan Bima akhirnya bisa menarik napas lega. Alih-alih menginap di kamar hotel yang sudah disiapkan Bu Sania, mereka memilih pulang ke apartemen yang menurutnya lebih nyaman. Begitu pintu apartemen terbuka, Nina langsung melepaskan high heels-nya, menghela napas panjang. “Ya ampun, kaki aku rasanya mau copot,” keluhnya sambil berjalan menuju sofa. “Pantas saja tadi aku lihat kamu berkali-kali tahan napas. Kalau tahu begitu, mending aku gendong sekalian.” Nina menoleh. “Maunya sih begitu—tapi aku nggak tega minta digendong. Mas pasti sama capeknya kayak aku.” Bima mendekat, meraih pinggang istrinya, lalu menatap dalam. “Meski capek, aku masih punya cukup tena

