Bab 90. Saran Eka

1909 Words

Di ruang rawat kelas satu, suasana berubah dingin begitu pintu tertutup setelah Bram dan Rian pergi. Hening yang tertinggal justru terasa menyesakkan. Bau antiseptik bercampur dengan dengung pendingin ruangan membuat Rere semakin tidak nyaman. Dadanya naik turun, bukan karena sesak napas—melainkan karena amarah yang menumpuk dan tak tersalurkan. Rere menatap pintu itu lama, seolah berharap Bram kembali masuk. Tapi yang datang hanyalah keheningan. “Kurang ajar,” gumamnya lirih. Tangannya mengepal di atas selimut. Matanya berkaca-kaca, bukan karena lemah, melainkan karena rasa terhina. Cara Bram bicara barusan, sikap dinginnya, pilihan ruang rawat yang menurutnya merendahkan—semuanya seperti tamparan beruntun. “Dia berani memperlakukanku seperti itu,” ucapnya lebih keras. “Aku ini istrin

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD