Di mansion Bram, sore itu udara terasa tenang—terlalu tenang untuk ukuran rumah yang belakangan penuh gejolak. Cahaya matahari menembus jendela-jendela tinggi, memantul di lantai marmer yang mengilap. Dari sudut dapur kering, Prita berdiri dengan ponsel menempel di telinga, langkahnya mondar-mandir kecil, suaranya diturunkan hingga nyaris berbisik. “Serius, Mas? Tadi siang Mas ketemu langsung sama Pak Bram dan bayinya?” tanyanya, mata Prita menyipit penuh minat. Di seberang sambungan, suara Leo terdengar tenang namun tajam. Ia menjelaskan sekilas pertemuannya di restoran—bagaimana ia melihat Bram, Alea, dan Alan dalam satu meja, bagaimana Alan tampak sehat, anteng, dan jelas dirawat dengan baik. “Kamu harus tahu semua kegiatan di dalam rumah itu,” lanjut Leo. “Terutama soal bayi itu. Ak

