Lobi rumah sakit dipenuhi aroma antiseptik yang menyengat lembut, bercampur suara langkah kaki dan panggilan nomor antrian. Alea turun duluan sambil menggendong baby Alan yang tengah mengucek mata mungilnya, sesekali menguap kecil. “Ah, ganteng.” Alea mencium pipi bayi itu, senyumnya lembut. “Hab hab, mau ketemu dokter anak, ya? Jangan rewel ya Sayang.” Mama Linda, yang turun dari mobil lain bersama Ida, langsung datang menghampiri dan ikut memeriksa selimut Alan. “Udah hangat, Nak?” tanya Mama Linda, wajahnya berseri melihat cucunya. Alea mengangguk sopan. “Sudah, Bu. Tadi di mobil sempat saya gendong terus biar nggak rewel.” “Bagus, bagus,” gumam Mama Linda, jelas puas. Bram turun terakhir. Ia sempat melihat Alea menggendong Alan dengan posisi aman—sempurna, tepat, penuh perhatian

