Bram menatap Eka lama, seolah sedang menimbang apakah ia perlu lagi marah atau cukup menahan diri demi tidak membuat keributan baru di depan pasien-pasien lain. Namun Eka sudah tersenyum manis—senyum yang sejak tadi dipaksakan, lebih mirip topeng yang licin. “Mas, kita jenguk Mbak Rere dulu, yuk. Masa ... istri sendiri tidak dihentikan.” Eka berkata dengan suara lembut yang jelas-jelas dibuat-buat. Mama Linda hanya mendesah pelan, tidak berkomentar. Ia tahu Bram sudah di ujung kesabarannya dengan Eka. Adik ipar Bram itu memang selalu memancing masalah. Bram meraih map catatan imunisasi dari dokter, lalu menoleh pada Alea—tepat sebelum Eka sempat menyambar tangannya. “Alea,” suara Bram menurun, jauh lebih lembut dibandingkan ketika ia bicara pada Eka. “Sebentar … aku titip Alan dulu.”

