Bab 167. Sahabat Terbaik

2054 Words

Siang itu angin pantai bertiup lebih hangat. Dari vila privat mereka, Alea seakan bisa mencium aroma masakan yang perlahan menyebar—harum bawang tumis, wangi seafood segar, dan aroma rempah khas pesisir. Tak lama kemudian, ponsel Bram bergetar. Mama Linda. Bram mengangkat panggilan sambil menggendong Alan yang baru saja terbangun dan tampak segar. “Assalamu’alaikum, Ma.” “Wa’alaikumsalam. Bram, makan siang sudah disiapkan di vila besar,” suara Mama Linda terdengar ceria. “Menu-nya banyak. Ada seafood juga. Cepat ke sini sebelum keburu dingin.” Bram tersenyum. “Siap, Ma. Kami ke sana sekarang.” Panggilan ditutup. Alea yang sedang merapikan tas kecil Alan menoleh. “Makan siang, Mas?” “Iya,” jawab Bram sambil menepuk-nepuk punggung Alan pelan. “Mama sudah siapin semuanya.” Alea ters

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD