Petang benar-benar jatuh ketika Bram masih berada di dalam ruang rawat kelas satu itu. Cahaya jingga dari jendela memantul di lantai, menciptakan bayangan panjang yang terasa dingin. Udara di ruangan itu berat—bukan karena bau obat atau desinfektan, melainkan oleh kata-kata yang sudah terucap dan tak mungkin ditarik kembali. Bram memandang Rere sekali lagi. Tatapannya datar, tanpa kebencian, tanpa amarah yang meledak—hanya keputusan yang sudah bulat. “Sebelum aku pergi,” ucap Bram tenang, suaranya rendah tapi jelas, “biaya rumah sakit tetap akan aku tanggung sampai dokter mengizinkan kamu pulang.” Rere yang masih terduduk di lantai mengangkat wajahnya cepat, seolah menemukan secercah harapan. “Proses perceraian akan segera aku urus ke pengadilan,” lanjut Bram tanpa jeda. “Uang mut’ah d

