Lampu temaram di ruang rawat VIP itu terasa semakin redup ketika hening menggantung di antara mereka. Bunyi pelan dari alat infus Alea menjadi satu-satunya suara yang konsisten, seolah ikut menghitung detik ketegangan yang belum menemukan muaranya. Alea memandang Bram tanpa berkedip. Wajahnya pucat, tapi sorot matanya tetap tajam—tidak rapuh, tidak menyerah. Ada rasa penasaran yang bercampur dengan kegelisahan, menekan dadanya sejak ia setengah sadar tadi. “Kenapa harus ditunda lagi?” tanyanya, suaranya tidak meninggi, tapi jelas mengandung desakan. “Apakah Pak Bram sebenarnya masih belum siap?” Bram terdiam sejenak. Ia menarik napas dalam-dalam, bahunya naik lalu turun perlahan. Ada sesuatu yang berat di dadanya—bukan ragu, melainkan kekhawatiran yang nyata. Dengan gerakan hati-hati,

