Rian juga maju cepat, berdiri di samping Bram. Tangannya tidak menyentuh Bram, tapi suaranya tegas. “Pak Bos. Cukup. Dengar dulu pengakuannya.” Bram terengah. Tangannya masih gemetar—bukan karena ragu, tapi karena menahan keinginan untuk melanjutkan. Parto mengerang pelan. Darah membasahi bibirnya. Matanya berkaca-kaca, bukan hanya karena sakit, tapi karena ketakutan yang akhirnya menelanjanginya. “Katakan!” Bram membentak lagi, suaranya serak. “Apa maksudmu membakar rumah Bu Shinta?!” Tangan Bram kembali terangkat. “Mas!” istrinya Parto menangis, lututnya melemas. “Ampun, Mas … saya nggak tahu apa-apa.” Bram menoleh sekilas ke arah perempuan itu. Hanya sekilas. Lalu kembali ke Parto. “Katakan sekarang!” Parto akhirnya mengangkat kedua tangannya, refleks, seperti orang yang sudah k

