Bab 146. Mau Oleh-Oleh Apa, Mamanya Alan?

1623 Words

Malam semakin larut ketika mobil warga berhenti di halaman kantor polisi sektor terdekat. Lampu-lampu neon memantul di kap mesin, menyinari wajah-wajah lelah yang baru saja melewati malam terpanjang dalam hidup mereka. Bram turun lebih dulu. Bahunya terasa berat, tulang-tulangnya pegal, tapi langkahnya tetap tegap. Rian menyusul, membawa map tebal berisi salinan rekaman CCTV, tangkapan layar percakapan, dan catatan kronologis yang sudah ia susun rapi di perjalanan. Parto dan Udin digiring masuk. Keduanya tertunduk, pakaian kotor, wajah lebam, mata merah oleh takut dan nyeri. Borgol berkilat di pergelangan tangan mereka, bunyinya nyaring di lorong yang sunyi. Di ruang laporan, seorang penyidik menerima mereka. Wajahnya serius, gerakannya efisien. Tidak ada basa-basi. Malam itu bukan m

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD