Pesawat yang membawa mereka dari Yogyakarta akhirnya mendarat dengan mulus di Bandara Soekarno-Hatta. Suara roda menyentuh landasan terasa seperti tanda resmi bahwa masa liburan benar-benar selesai. Alea memeluk Alan lebih erat di kursinya. Bayi itu baru saja bangun dari tidur singkatnya, matanya membulat melihat lampu kabin yang menyala terang. “Kita sudah sampai, Nak,” bisik Alea lembut. Bram menoleh dari kursi sebelahnya. “Siap kembali ke realita, Bu Mahasiswa?” Alea tersenyum kecil. “Siap nggak siap.” Bram terkekeh. Ia meraih tangan Alea dan menggenggamnya singkat. Genggaman itu bukan lagi sekadar kebiasaan—melainkan kebiasaan yang dipelihara. Setelah semua badai yang mereka lalui, sentuhan kecil terasa jauh lebih berarti. Di perjalanan pulang menuju mansion mereka di Jakarta Sel

