Sekitar pukul sebelas siang, matahari Yogyakarta sudah naik tinggi, memantulkan panas di aspal jalanan kampung yang sempit. Udara berbau campuran debu, sisa asap, dan kayu hangus—bau yang tidak sepenuhnya hilang meski api sudah lama padam. Sebuah mobil putih berhenti perlahan tak jauh dari garis pembatas lokasi kejadian. Bram turun lebih dulu. Kacamata hitam menutupi matanya, tapi rahang yang mengeras dan garis tegas di wajahnya tak bisa menyembunyikan perubahan emosi yang bergejolak di dalam. Ia berdiri sesaat, membiarkan pandangannya menyapu area itu—kerumunan warga, selang pemadam yang masih tergeletak, sisa-sisa air menggenang di tanah, dan tiga bangunan yang kini tinggal rangka hitam. Di belakangnya, Rian turun sambil menutup pintu mobil, tas kecil disandang di bahu. Tatapannya la

