Bab 141. Jangan Bersedih, Mama Alan

2031 Words

Pagi merayap pelan ke dalam mansion. Langit di balik jendela-jendela tinggi masih berwarna abu pucat, belum sepenuhnya terang. Embun menggantung di dedaunan taman, dan udara pagi membawa dingin yang lembap—dingin yang berbeda dari dingin malam, lebih jujur, lebih terbuka. Mansion itu terjaga lebih awal dari biasanya. Di halaman depan, sebuah mobil berhenti nyaris tanpa suara. Rian turun dengan tas kecil di pundaknya. Wajahnya serius, mata sedikit cekung—tanda ia datang terburu-buru, mungkin hampir tanpa tidur, setelah semalam menerima telepon Bram. Ia menutup pintu mobil perlahan, menatap bangunan besar itu sekilas. Ada sesuatu di udara pagi ini yang terasa berat. Tidak ada kegaduhan, tapi jelas ada luka yang masih terbuka. Di dalam mansion, Alea sudah terbangun sejak dini hari. Ia du

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD