Kamar rawat VIP itu sunyi, hanya diisi bunyi ritmis alat infus dan dengung pendingin ruangan. Lampu temaram membuat bayangan bergerak pelan di dinding. Alea masih tertidur, napasnya teratur, perban di kepalanya tampak kontras dengan kulitnya yang pucat. Di balik tirai setengah tertutup, Bram membaringkan tubuhnya di bed tambahan yang sudah tersedia. Gerakannya kaku—kaki kanannya digips, setiap perubahan posisi memancing nyeri—namun wajahnya tetap datar, terkontrol. Pintu diketuk pelan. Rian masuk, menutup pintu tanpa suara. Ia tidak langsung bicara. Ia menunggu sampai Bram menyandarkan tubuhnya dengan lebih nyaman, memastikan kakinya tidak tertekan. Sahabat sekaligus bosnya itu menoleh sedikit. “Bagaimana urusan di kantor polisi?” tanya Bram, suaranya rendah. Rian menarik napas. Ia ber

